Perangkat BK

Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.

Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung

Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA

Inovasi Bimbingan Klasikal

Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.

Kamis, 14 Juli 2022

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid (Aksi Nyata Calon Guru Penggerak)

Pembelajaran Berpusat pada Murid

Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Konsep pemikiran "menuntun segala kodrat" yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut memperkuat antitesa terhadap teori tabularasa bahwa anak bukanlah terlahir bagai kertas kosong, namun anak lahir dengan segala karakteristik dan keunikan masing-masing. Sehingga untuk menuntun segala kodrat agar anak menjadi mandiri, mampu beradaptasi bahkan bersaing dalam perubahan seperti apapun seorang guru harus 'menghamba' pada anak. Seorang pendidik diibaratkan sebagai petani, sebelum menyemai benih haruslah menyiapkan persemaian yang subur, memastikan benih tersebut ditanam ditempat yang tepat dengan memperhatikan benih tanaman, kesesuaian dengan iklim, kondisi tanah, barulah ia semai benih tersebut. Setelah itu dirawat dengan tepat hingga akhirnya bisa dipanen maksimal.
Segala perlakuan terhadap benih tersebut telah dipastikan berdampak pada kesuburan dan hasil panen yang maksimal. Perlakuan yang tepat dan efektif pastilah membawa dampak positif. Begitu jugalah pastinya dalam usaha menuntut kodrat anak sebagai seorang pendidik. Keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya tersebut dapat dicapai melalui pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.


Kegiatan Akhir Semester yang biasanya digunakan untuk lomba antar kelas (classmeeting) di SMAN 1 Sampung, merupakan waktu yang strategis untuk melakukan aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid. Rancangan program aksi nyata yang telah disusun sebelumnya sangat realistis untuk diterapkan. Jeda waktu 2 pekan setelah ujian semester genap dengan pembagian rapor bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan program pelatihan doubletrack yang saat ini terkendala karena waktu untuk pelatihan dilaksanakan pada saat hari libur, tentu saja hal tersebut mengurangi motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan tersebut. Rancangan aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid tersebut dilakukan dalam waktu 3 pekan, 1 pekan persiapan dan 2 pekan pelaksanaan. Aksi nyata dengan judul "Gelar Karya Pelatihan Doubletrack" ini melibatkan seluruh unsur yang berada di sekolahan. Tujuan utama dari program ini ialah memaksimalkan pelatihan doubletrack di sekolah yaitu bidang keterampilan tata busana dan tata boga. Kegiatan ini dilaksanakan mulai 14 - 29 Juni 2022. Siswa-siswi yang terlibat dalam kegiatan ini adalah kelas XI baik yang tergabung dalam kelompok keterampilan tata boga, tata busana dan juga yang tidak mengikuti keduanya. 



(Fact)

Kegiatan ini dimulai dari ide gagasan pelaksanaan kegiatan akhir semester sebagai program rutin pengurus OSIS. Suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam kegiatan ini sudah nampak dari awal perencanaan kegiatan (satu pekan sebelum pelaksanaan). Hasil yang didapat melalui kegiatan ini adalah produk pelatihan doubletrack dari setiap bidang. Pada bidang tata busana, tampak keaktifan peserta mengikuti rangkaian pelatihan. Ruang tata busana selalu ramai dipenuhi dengan ragam aktifitas siswa, ada yang belajar memotong bahan, menjahit, membuat pola dan ada juga yang mengemas. Begitu juga di ruang tata boga, ragam aktifitas murid dari membuat dan membentuk adonan, memasukkan ke dalam oven, membersihkan peralatan hingga mendokumentasikan produk. Ragam kue yang mereka buat, setiap hari mereka membuat kue yang berbeda, seperti bolen pisang coklat, kue ulang tahun, roll batik kukus, roti kukus roti sosis, nastar, cake tape, cake keju dan sarang semut. Suara, pilihan dan kepemilikan siswa benar-benar dapat terpenuhi melalui pengelolaan program ini. Pameran karya siswa menjadi penutup dari rangkaian pelatihan ini. Pada tanggal 29 Juni 2022 saat penerimaan rapor, siswa memamerkan hasil karya dan dijual kepada para pengunjung, yaitu orang tua/wali murid, bapak/ibu guru dan karyawan serta teman-teman mereka yang lainnya.


(Feeling, Fending, Future)

Saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Konsep tersebut saya temukan disaat melakukan aksi nyata ini. Sehingga perasaan saya sangat senang, kegiatan akhir semester di sekolah tampak hidup, komunitas siswa bergerak berkarya sesuai bidang masing-masing. Kebenaran konsep yang saya pelajari dapat saya buktikan melalui perencanaan pengelolaan program hingga implementasi aksi nyata dalam rancangan program tersebut. Ketika suatu program dikelola dengan baik dengan berbasis pada kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, memperhatikan kebutuhan anak maka anak akan benar-benar merasa memiliki kegiatan tersebut sehingga mereka akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Pengelolaan program yang berdampak pada murid seperti dalam aksi nyata yang dilaksanakan pada kegiatan akhir semester ini akan menjadi lebih berdampak apabila dilanjutkan pada kegiatan-kegiatan yang lain. Kolaborasi antar pihak, baik dengan guru/karyawan perlu ditingkatkan, jika pada awal rencana kita berharap murid merasa memiliki kegiatan ini, maka diperlukan upaya juga bahwa pengelolaan program yang berdampak pada murid ini juga dimiliki seluruh elemen yang ada di sekolahan. Sehingga peran setiap unsur akan menjadi lebih maksimal. Terlebih dengan berbagai proyek dalam implementasi kurikulum merdeka, proyek penguatan profil pelajar pancasila. 

Konsep pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah wujud dari keberpihakan seorang guru kepada murid. Oleh karena itu, upaya untuk mengenali karakteristik setiap murid tersebut merupakan langkah awal untuk menuntun mereka dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Jenis kegiatan yang baik adalah kegiatan yang benar-benar berdampak pada murid, kegiatan itu dibutuhkan murid untuk mengembangkan potensinya. Sehingga perencanaannya harus memperhatikan karakteristik, sumber daya/aset yang dimiliki oleh sekolah dan tantangan masa kini serta masa depan. Ketika suara, pilihan dan kepemilikan seorang murid terhadap suatu kegiatan telah terpenuhi maka kemandirian akan terbentuk sehingga rasa tanggung jawab akan menjadi modal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 




Senin, 13 Juni 2022

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antar Materi)

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan di dalam masyarakat. Kurikulum merdeka yang dijiwai oleh filosofis Ki Hajar Dewantara, memandang pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sehingga dapat dimaknai bahwa melalui pendidikan tidak sekedar melahirkan generasi yang cerdas, namun juga membangun peradaban manusia yang handal.

Sekolah sebagai tempat pendidikan formal adalah kesatuan dari berbagai aset, suatu komunitas untuk mewujudkan itu semuanya. Sekolah sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan, dimaknai sebuah ekosistem yang didalamnya terdapat interaksi antara berbagai aset, baik itu aset hidup maupun yang tidak hidup. Kelangsungan interaksi yang perlu untuk dijaga, dimaksimalkan dan bahkan diperbesar kemanfaatannya untuk mencapai tujuan pendidikan. Setiap aset yang dimiliki tersebut merupakan sumber daya yang memiliki peran sangat penting di dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Cara pandang seorang guru penggerak di dalam melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan yang ditetapkan. 

Terdapat dua cara pandang seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yaitu Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pendekatan yang akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Sedangkan yang kedua adalah Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking), pendekatan yang mengarahkan seorang pemimpin pembelajaran berdasarkan kekuatan aset yang dimiliki. Melalui pendekatan berbasis aset tersebut,, seorang pemimpin pembelajaran akan mengajak komunitasnya untuk fokus pada apa yang bekerja dan yang menjadi inspirasi, serta menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Selain itu, pendekatan berbasis aset ini adalah pendekatan untuk menuju perubahan ke arah positif yang melibatkan pihak-pihak di luar komunitas. 

Lalu bagaimana hal tersebut bisa diimplementasikan?

Kunci utama untuk menerapkan pendekatan berbasis aset adalah kepiawaian dalam mengidentifikasi aset/modal yang dimiliki oleh komunitas. Dalam hal ini pemimpin pembelajaran dapat mengelompokkan aset yang dimiliki ke dalam 7 modal, diantaranya: modal manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, serta modal agama dan budaya. Berpedoman pada 7 modal tersebut, pemimpin pembelajaran akan dapat melakukan identifikasi dengan rasional, peran setiap aset tersebut juga mudah untuk dipetakan. Bukan hanya aset yang ada di dalam komunitas, namun juga sesuatu yang berada di luar komunitas yang memiliki dampak jika dilibatkan dalam mencapai tujuan pendidikan. Sebagai contoh misalnya, pada modal agama dan budaya, masyarakat merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kebajikan baik yang dilandasi oleh nilai agama maupun budaya. Masyarakat adalah unsur yang berada di luar sekolah, namun begitu nilai kebajikan yang dimiliki oleh setiap murid dan dikembangkan di sekolah, akan mampu menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya. 

Ilustrasi Pemahaman

Pemimpin pembelajaran yang menerapkan pengelolaan sumber daya berbasis aset, adalah pemimpin pembelajaran yang mampu memandang masa depan dengan optimisme dan berbagai inovasi dengan memanfaatkan kekuatan aset yang dimiliki. Pengelolaan sumber daya yang tepat adalah pengelolaan sumber daya yang diawali dengan kemampuan untuk mengidentifikasi aset yang dimiliki, memetakan kebermanfaatannya dan menjaga setiap aset dapat berinteraksi secara dinamis serta berkembang. Harmonisasi pemanfaatan sumber daya ini tentunya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Setiap peran aset dapat dinilai dan diukur sehingga semuanya berjalan dengan efektif. Sehingga pada akhirnya pengelolaan sumber daya dengan tepat akan mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila seorang murid mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhan, memperoleh strategi pembelajaran sesuai dengan minat, mendapatkan pengajaran sesuai fase perkembangan, tercukupi kebutuhan sosial emosional maka kualitas pembelajaran mampu ditingkatkan sehingga murid akan merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran.

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berkaitan dengan materi-materi pada modul yang sudah dipelajari. Pada modul pemikiran Ki Hajar Dewantara misalnya, pemimpin dalam mengelola sumber daya sangat dipengaruhi oleh "patrap triloka" (ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani). Sekolah adalah komunitas dianggap sebagai ekosistem yang didalamnya terdapat unsur hidup dan tak hidup, keduanya saling berinteraksi. Pada interaksi inilah seorang pemimpin pembelajaran memiliki kewajiban memberikan teladan, memotivasi dan memberikan dorongan agar setiap aset bisa menunjukkan kebermanfaatannya untuk mencapai tujuan. Begitu juga dengan materi peran dan nilai guru penggerak, materi pengelolaan sumber daya ini adalah aktifitas rinci yang memuat bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yang dimulai dari perubahan paradigma. Cara pandang berpusat pada kekuatan aset, ini memperkuat pemahaman dalam membangun dan mengembangkan komunitas melalui penerapan Inquiry Apresiatif, diaman dalam konsep inquiry apresiatif juga fokus pada kekuatan, potensi dan hal positif lainnya yang dapat bekerja dengan baik melalui langkah-langkah BAGJA. 

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya memberikan pengetahuan baru dalam pengelolaan sumber daya. Pengembangan komunitas melalui pengelolaan sumber daya berbasis aset merupakan pilihan yang tepat. Fokus pada kekuatan setiap aset yang dimiliki akan mengajak pemimpin pembelajaran untuk berfikir jauh ke depan dengan berbagai gagasan dan inovasi. Sebaliknya apabila seorang pemimpin pembelajaran berfokus pada kekurangan, kesalahan maka ia akan larut dalam mencari apa yang tidak bekerja sehingga ia melupakan berbagai kekuatan aset yang dimiliki, tentu saja hal ini akan menghambat tercapainya tujuan. Pemahaman itulah yang pada akhirnya mengajak kita untuk merubah paradigma dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. 

 


Selasa, 26 April 2022

Koneksi Antar Materi - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani
Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila

Dalam menjalankan peran tersebut, sudah pasti terdapat berbagai tantangan yang mengharuskan untuk membuat suatu keputusan. Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang dipilih Berdasarkan kesadaran penuh (mindfullnes), keputusan yang telah melalui pertimbangan paradigma, prinsip berpikir dan dapat diuji efektivitasnya.

Disinilah Pratap Triloka buah pemikiran KHD memberikan warna utama, menjadi pondasi seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ing ngarso sung tuladha, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu menjadi teladan baik bagi murid maupun rekan sejawat. Ing Madyo Mangun Karso, keputusan yang diambil menumbuhkan motivasi bagi subyek yang terdampak, menumbuhkan motivasi murid untuk mengembangkan potensi, menumbuhkan motivasi rekan sejawat untuk bergerak mengusahakan perubahan kecil yang berdampak pada lingkungan belajar di sekolah. Bukan hanya memberikan motivasi, ada kalanya seorang pemimpin pembelajaran memposisikan dirinya berada di belakang, oleh karena itu setiap keputusan yang diambil harus mampu mendorong baik murid maupun rekan sejawat ketika mereka mengalami hambatan yang membuat mereka diam dan berhenti. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pratap triloka KHD menjadi sebuah prinsip bagi seorang pemimpin pembelajaran dalam membuat keputusan dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah seorang pemimpin yang harus mampu menjadi teladan, motivator dan pendorong bagi setiap orang yang dipimpin (murid maupun rekan sejawat)

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam dalam diri kita merupakan energi positif, nilai tersebut menggerakkan kita melakukan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan dan ketika kita bahagia, produktifitas sudah pasti akan meningkat besar. Sehingga melalui nilai-nilai tersebut seorang pemimpin pembelajaran membuat suatu keputusan berdasarkan prinsip-prinsip cara berfikir baik itu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Nilai-nilai dalam seorang pemimpin pembelajaran akan cenderung memilih opsi berfikir mana yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Nilai Guru Penggerak menjadi pondasi memperkuat peran sebagai Pemimpin Pembelajaran
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Proses coaching mampu membantu seorang pemimpin pembelajaran dalam memberdayakan segala potensi yang dimiliki, menentukan berbagai alternatif keputusan yang realistis,operasional dan bertanggungjawab. Keputusan yang diambil dalam praktik coaching efektif berdasarkan 9 langkah pengujian. Proses coaching model TIRTA yang benar mampu menjaga seorang pemimpin pembelajaran membuat alternatif keputusan dengan mempertimbangkan aspek dampak, paradigma, cara berfikir, sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kesadaran penuh.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam Pembelajajaran sosial emosional yang diadaptasi dari CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) terdapat 5 bidang kompetensi, diantaranya: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesadaran diri dapat diartikan: seorang guru yang mampu mengenali setiap kekuatan dan keterbatasan baik fisik maupun psikis dirinya sendiri dalam masa tertentu; sedangkan manajemen diri merujuk pada kemampuan seorang guru untuk mengelola setiap emosi, pikiran dan perilaku secara efektif; kesadaran sosial merupakan kemampuan guru untuk berfikir berdasarkan perspektif orang lain (menumbuhkan empati, termasuk menghargai perbedaan); keterampilan hubungan dapat difahami guru yang mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak secara efektif untuk mencapai tujuan dan yang terakhir pengambilan keputusan yang bertanggung jawab: menegaskan bahwa segenap kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri seorang guru merupakan kondisi ideal untuk menentukan keputusan, karena keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan melalui kesadaran penuh dan bertanggungjawab.

Memperkuat pemahaman terhadap konsep materi melalui sesi kolaborasi 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada dasarnya, kasus yang fokus pada masalah moral dan etika itu melibatkan dilema nilai-nilai kebenaran dan kesalahan yang tumbuh, diyakini dan dipegang teguh suatu kelompok ataupun masyarakat. Benturan yang terjadi antara prinsip individu dengan berbagai peraturan yang diakui tidak dapat dihindarkan. Hal tersebut mendorong manusia untuk memanfaatkan prinsip berfikir humanis dan dapat dipertanggungjawabkan dengan berbagai alasan logis. Nilai-nilai kebajikan yang dianut seorang pendidik itulah yang menjadi dasar berfikir dalam pengambilan keputusan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang tepat adalah keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang ada didalam individu dan diakui juga oleh masyarakat/lingkungan yang terdampak dan dikatakan tepat, karena keputusan tersebut mampu menjawab dan mengatasi permasalahan secara efektif. Hal tersebut yang mendorong terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Persamaan persepsi terhadap nilai-nilai kebajikan sebagai ruh dalam pengambilan keputusan antara pemimpin dan orang yang dipimpin, membuat orang yang dipimpin merasa dihargai dan dilibatkan. Sehingga dengan kebahagiaan dan kenyamanan tersebut akan menumbuhkan produktifitas yang tinggi.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika, kesulitan yang muncul berasala dari perbedaan kepentingan, persepsi dan nilai yang dimiliki baik oleh seorang pemimpin pembelajaran maupun orang yang dipimpin. Cara pandang yang berbeda satu dengan yang lain dalam memaknai permasalahan menjadi tantangan tersendiri. Hal tersebut memunculkan tidak hanya persepsi benar melawan benar, namun juga kebenaran melawan kesalahan.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang efektif adalah keputusan yang diambil melalui pertimbangan paradigma, didasarkan pada prinsip pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas dasar nilai-nilai kebajikan yang dimiliki dan diakui oleh suatu komunitas. Mempertimbangkan berbagai dampak serta melibatkan kompetensi sosial emosional, empati, berfikir berdasarkan perspektif orang lain sehingga orang lain merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai unsur tersebut, murid benar-benar menjadi pusat pengajaran. Ia akan selalu merasa dilibatkan, merasa dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya, rasa bahagia, aman nyaman akan mendorong mereka untuk semakin produktif, mencapai kemerdekaan belajar.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi pertimbangan dampak dari suatu keputusan, yang pertama adalah dampak jangka pendek, yang kedua adalah jangka panjang. Jangka pendek dalam artian pemenuhan kebutuhan saat ini juga, seperti keinginan untuk diperhatikan, kasih sayang serta kebutuhan secara akademik/materi pembelajaran. Sedangkan jangka panjang dalam artian pemenuhan kebutuhan masa depan murid-murid kita. Pada pemenuhan jangka panjang ini, suatu keputusan diambil tidak hanya melibatkan paradigma dan cara berfikir saja. Namun diperlukan identifikasi yang komprehensif mengenai segala potensi, bakat dan minat seorang murid. Sebagaimana keberhasilan dalam pembelajaran berdiferensiasi, asesmen yang efektif tersebut akan menjadi pertimbangan berbagai dampak di masa depan atas alternatif setiap keputusan seorang pemimpin pembelajaran terhadap muridnya.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Prinsip pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, berkaitan erat dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, terutama dengan konsep triloka. Dalam menentukan suatu keputusan, seorang pemimpin harus menempatkan diri sebagai teladan, motivator dan pendorong bagi orang yang dipimpin. Nilai-nilai kebajikan sebagai dasar pengambilan keputusan juga bertalian dengan prinsip budaya positif yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran. Pembentukan keyakinan dan kesadaran atas konsekuensi dari perbuatan cenderung diwarnai oleh nilai-nilai kebajikan yang berlaku. Upaya memberdayakan manusia agar dapat menyelesaikan masalah melalui proses coaching menjaga setiap keputusan yang diambil adalah pilihan yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan karena telah melibatkan berbagai kompetensi sosial emosional. Sehingga keputusan yang diambil akan berdampak positif terhadap lingkungan sekolah (murid, rekan sejawat), membuat merasa nyaman, dilibatkan yang akan mampu meningkatkan produktifitas, mencapai kemerdekaan dalam belajar.