Perangkat BK

Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.

Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung

Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA

Inovasi Bimbingan Klasikal

Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.

Senin, 13 Juni 2022

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antar Materi)

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan di dalam masyarakat. Kurikulum merdeka yang dijiwai oleh filosofis Ki Hajar Dewantara, memandang pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sehingga dapat dimaknai bahwa melalui pendidikan tidak sekedar melahirkan generasi yang cerdas, namun juga membangun peradaban manusia yang handal.

Sekolah sebagai tempat pendidikan formal adalah kesatuan dari berbagai aset, suatu komunitas untuk mewujudkan itu semuanya. Sekolah sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan, dimaknai sebuah ekosistem yang didalamnya terdapat interaksi antara berbagai aset, baik itu aset hidup maupun yang tidak hidup. Kelangsungan interaksi yang perlu untuk dijaga, dimaksimalkan dan bahkan diperbesar kemanfaatannya untuk mencapai tujuan pendidikan. Setiap aset yang dimiliki tersebut merupakan sumber daya yang memiliki peran sangat penting di dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Cara pandang seorang guru penggerak di dalam melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan yang ditetapkan. 

Terdapat dua cara pandang seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yaitu Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pendekatan yang akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Sedangkan yang kedua adalah Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking), pendekatan yang mengarahkan seorang pemimpin pembelajaran berdasarkan kekuatan aset yang dimiliki. Melalui pendekatan berbasis aset tersebut,, seorang pemimpin pembelajaran akan mengajak komunitasnya untuk fokus pada apa yang bekerja dan yang menjadi inspirasi, serta menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Selain itu, pendekatan berbasis aset ini adalah pendekatan untuk menuju perubahan ke arah positif yang melibatkan pihak-pihak di luar komunitas. 

Lalu bagaimana hal tersebut bisa diimplementasikan?

Kunci utama untuk menerapkan pendekatan berbasis aset adalah kepiawaian dalam mengidentifikasi aset/modal yang dimiliki oleh komunitas. Dalam hal ini pemimpin pembelajaran dapat mengelompokkan aset yang dimiliki ke dalam 7 modal, diantaranya: modal manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, serta modal agama dan budaya. Berpedoman pada 7 modal tersebut, pemimpin pembelajaran akan dapat melakukan identifikasi dengan rasional, peran setiap aset tersebut juga mudah untuk dipetakan. Bukan hanya aset yang ada di dalam komunitas, namun juga sesuatu yang berada di luar komunitas yang memiliki dampak jika dilibatkan dalam mencapai tujuan pendidikan. Sebagai contoh misalnya, pada modal agama dan budaya, masyarakat merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kebajikan baik yang dilandasi oleh nilai agama maupun budaya. Masyarakat adalah unsur yang berada di luar sekolah, namun begitu nilai kebajikan yang dimiliki oleh setiap murid dan dikembangkan di sekolah, akan mampu menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya. 

Ilustrasi Pemahaman

Pemimpin pembelajaran yang menerapkan pengelolaan sumber daya berbasis aset, adalah pemimpin pembelajaran yang mampu memandang masa depan dengan optimisme dan berbagai inovasi dengan memanfaatkan kekuatan aset yang dimiliki. Pengelolaan sumber daya yang tepat adalah pengelolaan sumber daya yang diawali dengan kemampuan untuk mengidentifikasi aset yang dimiliki, memetakan kebermanfaatannya dan menjaga setiap aset dapat berinteraksi secara dinamis serta berkembang. Harmonisasi pemanfaatan sumber daya ini tentunya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Setiap peran aset dapat dinilai dan diukur sehingga semuanya berjalan dengan efektif. Sehingga pada akhirnya pengelolaan sumber daya dengan tepat akan mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila seorang murid mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhan, memperoleh strategi pembelajaran sesuai dengan minat, mendapatkan pengajaran sesuai fase perkembangan, tercukupi kebutuhan sosial emosional maka kualitas pembelajaran mampu ditingkatkan sehingga murid akan merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran.

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berkaitan dengan materi-materi pada modul yang sudah dipelajari. Pada modul pemikiran Ki Hajar Dewantara misalnya, pemimpin dalam mengelola sumber daya sangat dipengaruhi oleh "patrap triloka" (ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani). Sekolah adalah komunitas dianggap sebagai ekosistem yang didalamnya terdapat unsur hidup dan tak hidup, keduanya saling berinteraksi. Pada interaksi inilah seorang pemimpin pembelajaran memiliki kewajiban memberikan teladan, memotivasi dan memberikan dorongan agar setiap aset bisa menunjukkan kebermanfaatannya untuk mencapai tujuan. Begitu juga dengan materi peran dan nilai guru penggerak, materi pengelolaan sumber daya ini adalah aktifitas rinci yang memuat bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yang dimulai dari perubahan paradigma. Cara pandang berpusat pada kekuatan aset, ini memperkuat pemahaman dalam membangun dan mengembangkan komunitas melalui penerapan Inquiry Apresiatif, diaman dalam konsep inquiry apresiatif juga fokus pada kekuatan, potensi dan hal positif lainnya yang dapat bekerja dengan baik melalui langkah-langkah BAGJA. 

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya memberikan pengetahuan baru dalam pengelolaan sumber daya. Pengembangan komunitas melalui pengelolaan sumber daya berbasis aset merupakan pilihan yang tepat. Fokus pada kekuatan setiap aset yang dimiliki akan mengajak pemimpin pembelajaran untuk berfikir jauh ke depan dengan berbagai gagasan dan inovasi. Sebaliknya apabila seorang pemimpin pembelajaran berfokus pada kekurangan, kesalahan maka ia akan larut dalam mencari apa yang tidak bekerja sehingga ia melupakan berbagai kekuatan aset yang dimiliki, tentu saja hal ini akan menghambat tercapainya tujuan. Pemahaman itulah yang pada akhirnya mengajak kita untuk merubah paradigma dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. 

 


Selasa, 26 April 2022

Koneksi Antar Materi - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani
Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila

Dalam menjalankan peran tersebut, sudah pasti terdapat berbagai tantangan yang mengharuskan untuk membuat suatu keputusan. Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang dipilih Berdasarkan kesadaran penuh (mindfullnes), keputusan yang telah melalui pertimbangan paradigma, prinsip berpikir dan dapat diuji efektivitasnya.

Disinilah Pratap Triloka buah pemikiran KHD memberikan warna utama, menjadi pondasi seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ing ngarso sung tuladha, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu menjadi teladan baik bagi murid maupun rekan sejawat. Ing Madyo Mangun Karso, keputusan yang diambil menumbuhkan motivasi bagi subyek yang terdampak, menumbuhkan motivasi murid untuk mengembangkan potensi, menumbuhkan motivasi rekan sejawat untuk bergerak mengusahakan perubahan kecil yang berdampak pada lingkungan belajar di sekolah. Bukan hanya memberikan motivasi, ada kalanya seorang pemimpin pembelajaran memposisikan dirinya berada di belakang, oleh karena itu setiap keputusan yang diambil harus mampu mendorong baik murid maupun rekan sejawat ketika mereka mengalami hambatan yang membuat mereka diam dan berhenti. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pratap triloka KHD menjadi sebuah prinsip bagi seorang pemimpin pembelajaran dalam membuat keputusan dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah seorang pemimpin yang harus mampu menjadi teladan, motivator dan pendorong bagi setiap orang yang dipimpin (murid maupun rekan sejawat)

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam dalam diri kita merupakan energi positif, nilai tersebut menggerakkan kita melakukan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan dan ketika kita bahagia, produktifitas sudah pasti akan meningkat besar. Sehingga melalui nilai-nilai tersebut seorang pemimpin pembelajaran membuat suatu keputusan berdasarkan prinsip-prinsip cara berfikir baik itu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Nilai-nilai dalam seorang pemimpin pembelajaran akan cenderung memilih opsi berfikir mana yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Nilai Guru Penggerak menjadi pondasi memperkuat peran sebagai Pemimpin Pembelajaran
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Proses coaching mampu membantu seorang pemimpin pembelajaran dalam memberdayakan segala potensi yang dimiliki, menentukan berbagai alternatif keputusan yang realistis,operasional dan bertanggungjawab. Keputusan yang diambil dalam praktik coaching efektif berdasarkan 9 langkah pengujian. Proses coaching model TIRTA yang benar mampu menjaga seorang pemimpin pembelajaran membuat alternatif keputusan dengan mempertimbangkan aspek dampak, paradigma, cara berfikir, sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kesadaran penuh.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam Pembelajajaran sosial emosional yang diadaptasi dari CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) terdapat 5 bidang kompetensi, diantaranya: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesadaran diri dapat diartikan: seorang guru yang mampu mengenali setiap kekuatan dan keterbatasan baik fisik maupun psikis dirinya sendiri dalam masa tertentu; sedangkan manajemen diri merujuk pada kemampuan seorang guru untuk mengelola setiap emosi, pikiran dan perilaku secara efektif; kesadaran sosial merupakan kemampuan guru untuk berfikir berdasarkan perspektif orang lain (menumbuhkan empati, termasuk menghargai perbedaan); keterampilan hubungan dapat difahami guru yang mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak secara efektif untuk mencapai tujuan dan yang terakhir pengambilan keputusan yang bertanggung jawab: menegaskan bahwa segenap kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri seorang guru merupakan kondisi ideal untuk menentukan keputusan, karena keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan melalui kesadaran penuh dan bertanggungjawab.

Memperkuat pemahaman terhadap konsep materi melalui sesi kolaborasi 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada dasarnya, kasus yang fokus pada masalah moral dan etika itu melibatkan dilema nilai-nilai kebenaran dan kesalahan yang tumbuh, diyakini dan dipegang teguh suatu kelompok ataupun masyarakat. Benturan yang terjadi antara prinsip individu dengan berbagai peraturan yang diakui tidak dapat dihindarkan. Hal tersebut mendorong manusia untuk memanfaatkan prinsip berfikir humanis dan dapat dipertanggungjawabkan dengan berbagai alasan logis. Nilai-nilai kebajikan yang dianut seorang pendidik itulah yang menjadi dasar berfikir dalam pengambilan keputusan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang tepat adalah keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang ada didalam individu dan diakui juga oleh masyarakat/lingkungan yang terdampak dan dikatakan tepat, karena keputusan tersebut mampu menjawab dan mengatasi permasalahan secara efektif. Hal tersebut yang mendorong terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Persamaan persepsi terhadap nilai-nilai kebajikan sebagai ruh dalam pengambilan keputusan antara pemimpin dan orang yang dipimpin, membuat orang yang dipimpin merasa dihargai dan dilibatkan. Sehingga dengan kebahagiaan dan kenyamanan tersebut akan menumbuhkan produktifitas yang tinggi.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika, kesulitan yang muncul berasala dari perbedaan kepentingan, persepsi dan nilai yang dimiliki baik oleh seorang pemimpin pembelajaran maupun orang yang dipimpin. Cara pandang yang berbeda satu dengan yang lain dalam memaknai permasalahan menjadi tantangan tersendiri. Hal tersebut memunculkan tidak hanya persepsi benar melawan benar, namun juga kebenaran melawan kesalahan.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang efektif adalah keputusan yang diambil melalui pertimbangan paradigma, didasarkan pada prinsip pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas dasar nilai-nilai kebajikan yang dimiliki dan diakui oleh suatu komunitas. Mempertimbangkan berbagai dampak serta melibatkan kompetensi sosial emosional, empati, berfikir berdasarkan perspektif orang lain sehingga orang lain merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai unsur tersebut, murid benar-benar menjadi pusat pengajaran. Ia akan selalu merasa dilibatkan, merasa dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya, rasa bahagia, aman nyaman akan mendorong mereka untuk semakin produktif, mencapai kemerdekaan belajar.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi pertimbangan dampak dari suatu keputusan, yang pertama adalah dampak jangka pendek, yang kedua adalah jangka panjang. Jangka pendek dalam artian pemenuhan kebutuhan saat ini juga, seperti keinginan untuk diperhatikan, kasih sayang serta kebutuhan secara akademik/materi pembelajaran. Sedangkan jangka panjang dalam artian pemenuhan kebutuhan masa depan murid-murid kita. Pada pemenuhan jangka panjang ini, suatu keputusan diambil tidak hanya melibatkan paradigma dan cara berfikir saja. Namun diperlukan identifikasi yang komprehensif mengenai segala potensi, bakat dan minat seorang murid. Sebagaimana keberhasilan dalam pembelajaran berdiferensiasi, asesmen yang efektif tersebut akan menjadi pertimbangan berbagai dampak di masa depan atas alternatif setiap keputusan seorang pemimpin pembelajaran terhadap muridnya.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Prinsip pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, berkaitan erat dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, terutama dengan konsep triloka. Dalam menentukan suatu keputusan, seorang pemimpin harus menempatkan diri sebagai teladan, motivator dan pendorong bagi orang yang dipimpin. Nilai-nilai kebajikan sebagai dasar pengambilan keputusan juga bertalian dengan prinsip budaya positif yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran. Pembentukan keyakinan dan kesadaran atas konsekuensi dari perbuatan cenderung diwarnai oleh nilai-nilai kebajikan yang berlaku. Upaya memberdayakan manusia agar dapat menyelesaikan masalah melalui proses coaching menjaga setiap keputusan yang diambil adalah pilihan yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan karena telah melibatkan berbagai kompetensi sosial emosional. Sehingga keputusan yang diambil akan berdampak positif terhadap lingkungan sekolah (murid, rekan sejawat), membuat merasa nyaman, dilibatkan yang akan mampu meningkatkan produktifitas, mencapai kemerdekaan dalam belajar.


Sabtu, 26 Februari 2022

Mengapa Harus Pembelajaran Berdiferensiasi? (Koneksi antar Materi)

Pendidikan adalah persemaian benih-benih kebudayaan. Keberagaman peserta didik mendapat pengakuan dan memperoleh perhatian secara proporsional guna mencapai potensi terbaik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Memposisikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran adalah prinsip utama dan penting dilakukan oleh seorang pendidik. Sehingga ungkapan "guru harus menghamba pada murid" dapat dimaknai dengan seorang guru harus mampu memberikan pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran setiap murid. 

Setiap murid hadir di sekolah dengan berbagai karakteristik dan potensi yang beragam dan unik. Keragaman yang terbentuk adalah hasil dari interaksi dan cara belajar dari orang tua, lingkungan dan budaya yang berbeda-beda. Kondisi tersebutlah yang mendorong seorang guru memberikan pembelajaran dengan cara ataupun strategi berbeda untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap muridnya. Proses pembelajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan murid secara masuk akal inilah yang diharapkan membawa hasil yang berbeda dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang menyamaratakan kondisi murid.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas yang efektif. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh guru. Langkah pertama yaitu melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek (kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll). Kedua dengan merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar). Langkah berikutnya, mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Pemetaan kebutuhan dan karakteristik murid merupakan titik awal keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Sehingga pada fase awal ini guru harus mampu mengidentifikasi karakteristik murid (kesiapan, minat dan profil). Atas dasar data inilah strategi pembelajaran yang masuk akal akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Dalam usaha identifikasi tersebut, selain dengan usaha sendiri, guru juga dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak di sekolah maupun orang tua siswa di rumah. Salah satu pihak di sekolah yang sering melakukan kegiatan instrumentasi adalah guru BK. Sehingga guru BK bisa dijadikan partner utama dalam mempersiapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Data pemetaan yang valid menjadi dasar pemilihan strategi dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, setidaknya ada 3 strategi, yaitu: 1) diferensiasi konten, konten adalah apa yang akan diajarkan kepada murid; 2) diferensiasi proses, proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari; 3) diferensiasi produk, produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, diagram) atau sesuatu yang ada wujudnya. 
Melalui salah satu dari strategi tersebut, upaya masuk akal seorang guru untuk memberikan model pembelajaran yang berbeda di dalam kelas akan mampu mengakomodir kebutuhan setiap siswa. Rasa dihargai yang akan muncul dalam hati siswa akan menumbuhkan rasa nyaman dan motivasi untuk aktif sehingga potensi tiap siswa mampu tumbuh dan berkembang.

Proses pembelajaran berdiferensiasi inilah perwujudan dari pendidikan yang berpusat pada siswa. Upaya mewujudkan pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman karakteristik dan potensi murid akan mampu menciptakan rasa nyaman dalam proses belajar. Guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan segala kreativitasnya akan mampu menuntun segala kodrat murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 

Jumat, 18 Februari 2022

Menumbuhkan Budaya Positif di Sekolah (Aksi Nyata Pendidikan Guru Penggerak)


Paradigma Stimulus Respon Versus Teori Kontrol

Ketika mempelajari paradigma stimulus respon versus teori kontrol, mengajak kita untuk kembali mengingat teori clasical conditioning (behavior) yang dipopulerkan oleh Ivan Pavlov dan juga Watson. Perubahan perilaku terbentuk sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Munculnya perilaku baru siswa merupakan hasil interaksi stimulus dan respon. Bahkan pemberian stimulus akan mampu memperkuat perilaku tersebut. Pada bagian ini, teori stimulus respon dihadapkan dengan teori kontrol. Teori kontrol sendiri merupakan konsep teori yang dipopulerkan oleh William Glasser (bapaknya konseling realitas). Berbeda dengan konsep stimulus respon, perilaku dan kondisi seorang individu sangat dipengaruhi oleh tingkat keterpenuhan kebutuhan dasar yang dimiliki manusia. Dalam konsep realitas dimunculkan lima kebutuhan psikologis dasar manusia, diantaranya power, love and belonging, freedom, fun dan survival (Glasser, 1990). Melalui teori kontrol, Glasser berusaha menawarkan pandangan tentang dunia yang lebih mengakui keberagaman kondisi manusia.

Pembelajaran berpusat pada murid sebagaimana yang tertuang pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, merupakan pembelajaran yang mengakui setiap perbedaan murid di dalam kelas. Pengkondisian lingkungan pembelajaran yang kondusif dan pengambilan posisi seorang guru yang tepat akan mampu memaksimalkan pengembangan potensi setiap siswa di kelasnya. Konsep tentang kebutuhan dasar dan teori kontrol inilah kemudian menjadi dasar dalam restrukturisasi disiplin yang diutarakan oleh Dianne Gossen, atau yang lebih dikenal dengan disiplin positif.

Restitution: Restructuring Positif Disciplin (Motivasi Perilaku, Keyakinan, Posisi Kontrol dan Segitiga Restitusi)
Dianne Gossen mendasarkan konsep disiplin positif pada teori kontrol dan sekolah yang berkualitas (William Glasser) yang menjadi bagian dari pendekatan konseling realitas. Disiplin positif sendiri merupakan model pengelolaan kelas yang berfokus pada penciptaan kondisi anak merasa dihargai. Upaya membentuk dan memodifikasi perilaku yang berfokus pada keyakinan-keyakinan yang telah disepakati. Tidak lain, tujuan dari penerapan disiplin positif ini merupakan disiplin diri (self discipline)

Frasa restrukturisasi disiplin positif (restructuring positif discipline) mengajak para pendidik/guru merestrukturisasi ulang konsep pendisiplinan siswa di sekolah. Praktik pendisiplinan yang umumnya memuat peraturan dan sanksi yang diwarnai pemberian reward untuk memperkuat perilaku serta pemberian hukuman untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan kini dirasa tidak efektif. Selain itu praktik tersebut tidak mampu menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran yang akan dapat mencapai rasa aman, nyaman dengan mencukupi kebutuhan dasarnya. Sehingga disiplin positif mendorong guru untuk merubah paradigma dari sekedar peraturan  dan hukuman, namun menjadikan disiplin benar-benar berasal dari diri siswa melalui keyakinan-keyakinan positif yang ada dalam dirinya. Sehingga murid benar-benar merasakan penghargaan meskipun mereka melakukan perilaku pelanggaran. Merasa dihargai, merupakan modal untuk mengembangkan perilaku positif. 

Lalu bagaimana seorang guru harus mengambil peran dalam disiplin positif?

Teori motivasi manusia, Gossen mengungkapkan 3 motivasi perilaku manusia: 1) menghindari ketidaknyamanan atau hukuman; 2) mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain; 3) menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Alasan dari seorang individu memunculkan perilaku menjadi dasar utama memodifikasi perilaku (memunculkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi/menghilangkan perilaku yang tidak diiinginkan). Dalam disiplin positif, motivasi yang dianggap palin sesuai ialah yang ketiga "menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya". Motivasi tersebut dianggap mampu memunculkan perilaku positif dalam jangka waktu lama (menjadi kebiasaan) dibanding 2 motivasi yang lainnya. 
A
All behavior is an attempt to meet one of these needs. When a child demonstrates behavior that is inappropriate, our role is to help them meet their need in a more acceptable manner (Dianne Gossen) 

Posisi Kontrol, semua perilaku merupakan upaya untuk memenuhi salah satu kebutuhan tersebut. Ketika seorang anak menunjukkan perilaku yang tidak pantas, peran kita adalah membantu mereka memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih dapat diterima. Dalam melaksanakan praktik disiplin disekolah, terdapat lima posisi kontrol yang diperankan oleh seorang guru, diantaranya: 1) penghukum; 2) pembuat orang merasa bersalah; 3) teman; 4) monitor atau pemantau dan; 5) manajer. Untuk menerapkan disiplin positif dalam upaya memodifikasi perilaku siswa, seorang guru harus mengambil posisi kontrol yang tepat. Untuk lebih jelas, konsep 5 posisi kontrol dapat di akses pada link berikut.

Keyakinan Dasar Dibalik Restitusi: kecelakaan adalah bagian dari kehidupan. Restitusi adalah tentang membuat segalanya lebih baik. Restitusi memungkinkan individu untuk mendapatkan kembali harga diri melalui usaha pribadi. Restitusi menguntungkan orang yang dirugikan. Ini juga menguntungkan orang yang melakukan kesalahan. Pengampunan tidak sama dengan Restitusi.

Keyakinan kelas, untuk mewujudkan self discipline dengan efektif, pengakuan terhadap harga diri dan nilai-nilai yang dimiliki individu harus dikedepankan. Keyakinan-keyakinan inilah sebagai perwujudan nilai-nilai positif yang bersifat universal dan tidak terikat oleh latarbelakang atau entitas tertentu.  Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Keyakinan kelas ini disusun berdasarkan nilai-nilai positif dengan memperhatikan: 1) Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit; 2) Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal; 3) Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif; 4) Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas; 5) Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut; 6) Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat; 7) Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.


Restitusi, dalam KBBI restitusi diartikan "ganti kerugian", namun dalam disiplin positif, kata restitusi memiliki makna mengganti perilaku dengan mengkompromikan nilai-nilai yang dianut oleh siswa. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).

Restitusi adalah upaya kuratif yang dilakukan guru terhadap siswa yang melakukan perilaku negatif di sekolah. Penanganan perilaku menyimpang tersebut tentu saja dengan mengutamakan nilai-nilai yang dimiliki siswa tersebut dan yang telah menjadi keyakinan sebelum perilaku menyimpang itu muncul. 

Bagaimana restitusi diterapkan?

Segitiga Restitusi

Segitiga Restitusi, merupakan tahapan yang ditawarkan oleh Dianne Gossen dalam menerapkan disiplin positif. Tahapan yang bisa dilakukan untuk melakukan resitusi diantaranya: 1) Menstabilkan identitas, Bagian dasar segitiga, merupakan upaya mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses; 2) Validasi tindakan yang salah, merupakan upaya untuk mengenali motivasi munculnya perilaku bermasalah dan sebagai pendorong murid untuk lebih terbuka tentang dirinya; 3) Menanyakan keyakinan, mengingatkan kembali terhadap keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh siswa sebagai upaya mengambil solusi penanganan yang tetap menghargai nilai-nilai yang dimiliki siswa untuk mengembangkan perilaku positif ataupun perilaku yang seharusnya dilakukan. 


Aksi nyata yang dilakukan berkaitan dengan upaya menumbuhkan budaya positif.

  1. Melaksanakan layanan konseling dengan pendekatan realitas sebagai wujud aksi nyata konsep teori kontrol William Glaseer.
  2. Berlatih menyusun keyakinan kelas yang berpusat pada nilai-nilai positif yang dimiliki oleh siswa.
  3. Melaksanakan deseminasi pengetahuan dan pengalaman dalam forum MGBK SMA Ponorogo
  4. Menjadi pemateri dalam In House Training di sekolah dengan tema Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui Pengembangan Budaya Positif di Sekolah (Analisis Filosofi Ki Hajar Dewantara, Identifikasi Peran Guru, Menyusun Keyakinan Kelas dan Kreasi Animasi Berkarakter)