Perangkat BK

Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.

Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung

Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA

Inovasi Bimbingan Klasikal

Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.

Selasa, 18 Oktober 2022

Pembinaan Pengawas Pembina SMAN 1 Sampung

Meningkatkan Prestasi Sekolah melalui Kekompakan Warga Sekolah

(di SMA Negeri 1 Sampung 19 Oktober 2022)

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah merupakan proses memotret kinerja sekolah (seluruh kegiatan manajerial yang ada di sekolah). Sejauh mana sekolah mampu memberikan pelayanan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan setiap murid. seorang guru yang bisa mengantar anak didik untuk mandiri. Penghargaan yang kita rasakan hendaknya bukan karena jabatan kita naik, namun saat anak didik kita mencapai kemandirian. Layani anak dengan sebaik-baiknya, saat menemukan anak didik berperilaku kurang tepat, jangan dimarahi, diajak ngobrol, temukan keyakinan-keyakinan positif yang ada dalam diri mereka.

Manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.  Begitu juga setiap anak memiliki dunianya sendiri, minat tersendiri yang sangat dipengaruhi kondisi alam dan perkembangan zaman.  Proses pembelajaran era digital, guru lah yang harus menyesuaikan diri dengan karakteristik dan minat anak. 

Sebelum dilaksanakan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, bapak ibu perlu melaksanakan Penilaian Kinerja Guru (PKG). Melalui PKG itu selain mengukur setiap kinerja guru juga dalam rangkan mengupayakan kenaikan jenjang karier guru. Sebagaiaman dengan namanya "PKG", instrumen yang digunakan selain format yang sudah ditetapkan, juga harus ada instrumenrasi yang mengukur proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru ketika di dalam kelas. Dimana instrumen itu memuat persiapan, kegiatan intin, evaluasi dan tindak lanjuut. 

Melaksanakan "mandiri belajar" berarti dalam rangka belajar untuk menerapkan implementasi kurikulum merdeka. Ruh dari "mandiri belajar" haruslah belajar menerapkan strategi yang ada di dalam kurikulum merdeka. Diantaranya adalah implementasi pembelajaran berdiferensiasi, yang memunginkan setiap anak memperoleh pembelajaran dan pengalaman yang berbeda sesuai dengan minat dan potensi anak. 

Bermimpilah bahwa sekolah kita, sekolah pinggiran rasa sekolah internasional. Segala sesuatu harus dimulai dengan mimpi, karena mimpi itu ibarat doa. Energi yang besar akan memancarkan frekuensi yang besar sehingga ia akan menggerakkan orang yang frekuensinya sama dengan yang kita pancarkan. 

Sehingga untuk mensukseskan seluruh kegiatan yang ada di sekolah, baik dalam pembelajaran, penilaian kinerja kepala sekolah bahkan akreditasi diperlukan kekompakan dan kerja sama dari seluruh warga yang ada di sekolah. Kekompakan tersebut bisa diusahakan dengan berbagai kegiatan yang mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, seperti outbond, jalan-jalan bersama, ataupun kegiatan lainnya dimana Kepala Sekolah sebagai manajer perlu melaksanakan kegiatan tersebut. 

Kamis, 06 Oktober 2022

Komik Motivasi Berprestasi

 




Selasa, 20 September 2022

Namaku Agustin Firda

Namaku Agustin Firda Aulia Dwi Alyana lahir pada tahun 2004 dan bertempat tinggal di desa Sampung. Saya alumni dari SMPN 1 Sampung, angkatanku akan menjadi angkatan pertama yang penuh cerita . ANGKATAN CORONA begitulah kita akan disebut,bukankah berbeda?Tentu saja. Angkatanku akan menjadi angkatan terkenang sepanjang masa. Kita usai sebelum waktunya,kita istirahat sebelum jamannya. Kita tamat begitu saja,kita menjadi alumni yang mendadak dan begitu cepat ,kita berpisah tanpa ada perpisahan. Mungkin ini adalah cobaan agar kita menjadi lebih baik dan tegar. Inilah kisah akhir dari biru putih menjadi kisah awal kita putih abu-abu. Dan saat ini saya bersekolah di SMA N 1 Sampung. Saat ini hanya bisa bersekolah dengan daring karena kini negara kita sedang menghadapi masalah yang sangat besar yaitu Covid 19 atau sering disebut Virus Corona. Tidak hanya di Indonesia saja bahkan satu dunia. Awal mula datangnya virus itu dari negara Cina hingga pada akhirnya menyebar kemana-mana. Puluhan ribu orang terjangkit virus corona dari bayi,remaja,hingga orang dewasa. Keadaan perkonomian pun menjadi menurun bahkan anak sekolah juga ditugaskan untuk belajar dirumah. Walaupun saya harus belajar daring tetapi saya tetap semangat untuk mengkuti pelajaran dan selalu tepat waktu untuk mengumpulkan tugas dari guru yang telah diberikan. Pemerintah juga melarang untuk mengadakan acara yang mengundang keramaian, sehingga acara yang tadinya sudah direncanakan harus dibatalkan dan tidak sedikit yang mengalami kerugian.

Kita sebagai warga,wajib mematuhi aturan pemerintah atau sering disebut protokol kesehatan yang sudah dirancang untuk kita laksanakan agar terhindar dari virus corona. Kita juga harus melakukan sosial distancing kepada siapapun,mencuci tangan menggukan sabun atau handsanitaizer sesering mungkin dan selalu menggunakan masker bila pergi keluar rumah. Selain itu kita juga harus rajin berolahraga seperti bersepeda,lari-lari kecil dan rutin untuk seman aerobik. Pola makan pun harus kita jaga. Makanlah makanan yang banyak mengandung gizi seperti 4 Sehat 5 Sempurna.

Kita sebagai remaja pastinya akan merasa lebih senang dan nyaman ketika berada di rumah, apalagi untuk anak perempuan. Rumah itu rumah kita sendiri dimana dari kecil kita bermain disana dan tempat belajar sebelum kita mengenal bangku sekolah dan teman-teman lainnya. Kita merasa hidup kita lebih bebas ketika kita berada di rumah tanpa adanya tata tertib yang ketat dan guru yang selalu mengawasi pergerakan kita ketika pembelajaran berlangsung. Semua itu bisa membuat kita jauh lebih produktif dan kreatif karena kita merasa senang dan nyaman bila beraktivitas di rumah kita sendiri, tempat dimana kita dapat dengan bebas mengekspresikan diri kita.

Mengurangi segala aktivitas di luar rumah dapat menjadikan kita lebih produktif di dalam rumah contohnya saja ketika kita sering berpergian keluar rumah sebelum pandemi hanya untuk menghabiskan uang dan hangout bersama teman-teman, tanpa kita sadari sekarang ketika kita di rumah kita malah mencoba berbagai macam pekerjaan sampingan agar kita mendapatkan penghasilan dan pastinya menghindar kata bosan contohnya saja membuka online shop sendiri. Tidak mudah memang beradaptasi dengan kehidupan yang sekarang. Generasi milenial sendiri pastinya merasakan banyak kebosanan ketika pembelajaran dari rumah, karena hampir setengah hari full kehidupan mereka baik dari belajar di sekolah, bertemu dengan banyak orang, berkumpul dan berkerumun kesana kemari dengan banyak teman, semua itu di lakukan di luar rumah. Dan sekarang malah harus tetap di rumah untuk mematuhi kebijakan pemerintah. Dimana tahun lalu pada tanggal 17 Agustus kita masih berdiri  tegak di tengah lapangan yang luas untuk memperingati Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, mendengar lagu-lagu perjuangan yang di nyanyikan, melihat setiap pertunjukan drama perjuangan yang disuguhkan. Namun sekali lagi tahun ini tahun 2020 tahun yang berbeda. Semoga kita dapat beraktivitas di luar rumah dengan nyaman dan aman kembali pastinya untuk menjalani kehidupan yang normal dan merasakan nuansa merah putih yang masih begitu kental di Agustus 2020 ini.

Kemerdekaan memeiliki arti yang sangat penting bagi semua bangsa di dunia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang ditunngu tunggu oleh bangsa Indonesia. 17 agustus 1945 dimana bapak Ir. Soekarno mengumandangkan teks proklamasi yang menandakan bangsa Indonesia telas bebas dari genggaman penjajah. 75 tahun kita rasakan hingga saat ini adalah berkah yang didapatkan dari penjuangan para pahlawan. Pada bulan agustus rakyat Indonesia akan mengadakan berbagai kemeriahan yang menurut mereka sangat penting. Karena di dalam kemeriahan tersebut terdapat bebagai makna yang sangat mendalam. Kemeriahan tersebut biasanya di isi oleh lomba-lomba yang sangat menarik salah satunya panjat pinang. Didalam perlombaan di ini terdapat berbagai macam makna yang salah satunya adalah gotong royong. Dengan demikian merayakan kemerdekaan sangat penting di karenakan terdapat berbagai makna di dalam kemeriahan tersebut.

Dengan seiring berjalannya waktu hari demi hari virus corona semakin merajalela. Menjangkit satu persatu manusia di dunia. Negara kita lah yang menempati titik puncak tertinggi. Setiap harinya bertambah diatas angka 100 (kasus nasional). Dan setiap harinya kurang lebih 50 orang meninggal dunia. Pemerintah langsung bergegas merancang Undang-Undang kesehatan yang wajib kita laksanakan agar terhindar dari virus corona. Apalagi di wilayah Sampung, tepatnya di desa Nglurup terdapat tambahan kasus baru, sehingga yang awalnya daerah hijau kemungkinan menjadi merah kembali. Anak sekolah pun yang awalnya dikabarkan untuk bisa melaksakan pembelajaran tatap muka akhirnya di tunda. Karena ada beberapa anak yang bertempat tinggal atau berasal dari daerah Nglurup dikhwatirkan akan menyebarkan virus. Dengan adanya kasus tersebut diharapkan kepada warga masyarakat untuk lebih mematuhi aturan protokol kesehatan yang sudah dibuat oleh dinas kesehatan,berjaga jarak minimal 1 meter,melakukan sosial distancing,selalu mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitaizer, mengenakan masker bila keluar rumah. Dan apabila habis berpergian jauh atau keluar rumah melakukan kontak dengan orang banyak atau kerumunan (pasar,sawalayan) sesampai dirumah kita wajib mandi dan mencuci semua pakaian yang habis kota pakai dari luar,kita harus tetap waspada,guna untuk memutus matarantai penularan virus corona atau covid 19.

Dengan keadaan seperti ini kita sebagai generasi digital harus tetap bersemangat untuk belajar. Meraih cita-cita dan keinginan yang sudah lama kita impikan. Terus berjuang mempertahankan nama baik negara,yang dulunya pernah dijajah oleh bangsa asing selama bertahun-tahun. Tidak mematahkan semangat pemuda Indonesia. Dengan semangat yang berkobar mereka berhasil merobek bendera biru diatas hotel Yamato,dan akhirnya merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Yang kini ditetapkan sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Melihat situasi saat ini, ada baiknya kita ikut peduli. Melihat kondisi sesama, di sekitar kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, yang membutuhkan pertolongan. Mungkin pertolongan tersebut terkesan remeh, bisa sebuah sapaan menanyakan kondisi melalui pesan singkat di tengah masa karantina mandiri, memberikan dukungan serta semangat kepada mereka yang positif COVID-19, hingga membantu kebutuhan pokok bagi mereka yang terdampak pandemi ini. Apa pun bentuknya, kepedulian sangat berguna di masa seperti sekarang. Sampai saatnya tiba, Bangsa Indonesia bisa melalui ujian ini dan kembali menjalani kehidupan normal sehari-hari. Lekas membaik bumiku:)


Minggu, 28 Agustus 2022

Ada apa dengan RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022? Apa benar TPG di hapus?

Naskah RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022 

Kalau dicermati RUU ini kaya omnibus law yang sempat membuat ramai negeri ini. Jika omnibus law bisa menggantikan puluhan undang-undang, RUU Sisdiknas ini menggantikan 3 perundangan yang telah ada sebelumnya, yaitu: 1) UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 2) UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; 3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Melalui akun resminya Kemendikbud RI menjelaskan bahwa RUU ini telah diajukan dalam Prolegnas Prioritas Perubahan Tahun 2022 kepada DPR RI. Lalu seperti apa konten naskah RUU Sisdiknas Versi Agustus ini?

RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022 memuat 150 Pasal, yang dimulai dari konsep umum tentang pendidikan, jalur-jenjang-jenis pendidikan, kurikulum, akreditasi evaluasi, pendidik dan tenaga kependidikan hingga sekolah diplomatik dan lembaga pendidikan asing. 

Apa yang baru dan berbeda termuat dalam naskah RUU ini? Nah pada bahasan ini kita fokus pada bagian pendidik dan tenaga kependidikan. Bagian ini nih yang saat ini sedang viral dan agaknya mengusik kenyamanan bapak dan ibu guru. Ada ayat sakti yang termuat dalam UU Guru dan Dosen (UU yang akan digantikan) yang menjadi payung hukum Guru menerima Tunjangan Profesi degan besaran satu kali gaji pokok dan ayat sakti tersebut tidak muncul (dihilangkan) dalam naskah RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022. Hilangnya ayat tersebutlah yang menimbulkan pemahaman bahwa tunjangan profesi guru dihapus, ada juga yang mengatakan perlahan-lahan akan dihapus mengingat pada bagian ketentuan peralihan pasal 145 disebutkan bahwa:

Setiap guru dan dosen yang telah menerima Tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan/atau tunjangan kehormatan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebelum Undang-Undang ini diundangkan, tetap menerima tunjangan tersebut sepanjang masih memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sehingga cukup jelas disitu, untuk bapak/ibu guru yang sudah menerima TPG tidak terpengaruh apabila RUU ini diundangkan. Bapak/Ibu akan tetap menerima tunjangan tersebut sepanjang masih memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (pasal 145 ayat 1).

Lalu bagaimana dengan yang belum pernah menerima tunjangan profesi?

Pada pasal 105 berbunyi

Dalam menjalankan tugas keprofesian, Pendidik berhak: a) memperoleh penghasilan/pengupahan dan jaminan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; b) mendapatkan penghargaan sesuai dengan prestasi kerja;.... 

Bunyi pasal tersebut sangat umum, jika dianggap sebagai gantinya TPG di UU sebelumnya pun sangat jauh dari esensi kepastian bahwa guru yang belum pernah menerima akan mendapatkan penghasilan senilai TPG ataupun bisa lebih dari itu. Sehingga bisa dimaklumi apabila ada anggapan bahwa TPG dihapus melalui RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022.

Berbagai kalangan mulai mendiskusikan isu "tunjangan profesi guru dihapus melalui RUU Sisdiknas" baik secara tatap muka maupun melalui media sosial. Bahkan mungkin sudah ada yang mengeluh 'mumet' saat membaca judul "tunjangan profesi guru akan dihapus" karena tidak mau berliterasi dengan baik.

Tanggapan pemerintah bagaimana 

Mas Dito (panggilan Anindito Aditomo) Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek menjelaskan bahwa adanya RUU Sisdiknas ini justru untuk membuat semua guru mendapat penghasilan yang layak. Guru tidak lagi harus antri mengikuti PPG dan tersertifikasi dahulu untuk mendapatkan penghasilan yang layak (detik.com). 

Sehingga ukuran pendapatan/penghasilan yang tercantum dalam RUU Sisdiknas ini terbatas pada 'penghasilan yang layak' berapakah nilainya apakah 1x gaji pokok atau 2x gaji pokok atau tidak sampai 1x gaji pokok, atau sesuai UMR 😂 Hayo kira-kira berapa hehe. Jadi memang yang sudah sangat jelas, pada naskah RUU ini tidak ada aturan tentang tunjangan profesi guru termasuk nilai penghasilan yang layak. 

Namun begitu terobosan timnya mas Menteri ini patut diapresiasi, semangat untuk percepatan pemberian penghasilan yang layak bagi seluruh pendidik di Indonesia merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah dalam membangun peradaban Indonesia yang tangguh. Kementerian juga memberikan kesempatan seluruh pihak berpartisipasi dalam memberikan kritik saran terhadap naskah RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022 ini. 

Menyoal ayat tentang tunjangan profesi guru yang tidak muncul di RUU

Setelah membaca 74 lembar naskah yang diunduh dari portal kemdikbud, tentu saja rasa cemas muncul dari pendidik yang belum menerima tunjangan profesi, bahkan mungkin calon pendidik yang saat ini masih berproses di bangku kuliah juga mengalami hal yang sama. Saya yakin kepastian mendapatkan tunjangan profesi yang tercantum dalam UU Guru dan Dosen menjadi daya tarik mereka untuk menjadi pendidik. Lalu bagaimana disaat mereka bersiap memberikan pengabdian terbaik, salah satu kepastian penghasilan untuk bertahan hidup tiba-tiba dihilangkan. 

  1. Ayat yang mengatur tunjangan profesi guru yang tercantum dalam UU Guru dan Dosen tetap dimunculkan dalam RUU Sisdiknas yang baru. Untuk memperbaiki tidak harus menghilangkan, bahkan mungkin sebaliknya memperkuat dan meningkatkan. Memperkuat prasyarat untuk mendapatkan dan meningkatkan nilainya.
  2. Namun apabila berdasarkan hasil evaluasi pemberian TPG belum mencapai tujuan yang diharapkan atau mungkin ada anggapan TPG yang salah sasaran sebagaimana penyaluran subsidi BBM, pemerintah perlu memperkuat sistem penyalurannya. Bagaimana mengupayakan guru benar-benar mampu dan kompeten memfasilitasi pelajar tumbuh dan berkembang sesuai kodrat zaman. Diwajibkan sajalah penerima/calon penerima TPG ikut program guru penggerak (misalnya). 
  3. Setuju dengan pemilihan kata pelajar untuk menggantikan peserta didik. Menunjukkan keberpihakan seorang guru yang berusaha menciptakan kondisi searah sejalan. Secara singkat pelajar dimaknai orang yang sedang/harus belajar, mengesampingkan usia maupun tahapan perkembangan manusia.
Pada akhirnya, mendidik adalah mempersiapkan peradaban yang kuat dan tangguh untuk mampu berkompetisi dalam berbagai perubahan zaman. Untuk mengusahakan tercapainya kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya berdasarkan nilai-nilai Pancasila, seorang pendidik harus sudah lulus dengan berbagai kebutuhannya sendiri. Baik itu kebutuhan makan, kesehatan, tempat tinggal, hingga  pendidikan anak dan masa depan. Oleh karena itu (seharusnya) sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk membantu memenuhi itu semuanya. Sehingga guru benar-benar fokus mempersiapkan peradaban bangsa Indonesia yang tangguh siap berkompetisi sesuai dengan perkembangan zaman. 

Naskah RUU Sisdiknas Versi Agustus 2022 bisa diunduh disini

Yuk berkontribusi dalam RUU Sisdiknas sebelum disahkan Klik disini ya



Kamis, 14 Juli 2022

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid (Aksi Nyata Calon Guru Penggerak)

Pembelajaran Berpusat pada Murid

Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Konsep pemikiran "menuntun segala kodrat" yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut memperkuat antitesa terhadap teori tabularasa bahwa anak bukanlah terlahir bagai kertas kosong, namun anak lahir dengan segala karakteristik dan keunikan masing-masing. Sehingga untuk menuntun segala kodrat agar anak menjadi mandiri, mampu beradaptasi bahkan bersaing dalam perubahan seperti apapun seorang guru harus 'menghamba' pada anak. Seorang pendidik diibaratkan sebagai petani, sebelum menyemai benih haruslah menyiapkan persemaian yang subur, memastikan benih tersebut ditanam ditempat yang tepat dengan memperhatikan benih tanaman, kesesuaian dengan iklim, kondisi tanah, barulah ia semai benih tersebut. Setelah itu dirawat dengan tepat hingga akhirnya bisa dipanen maksimal.
Segala perlakuan terhadap benih tersebut telah dipastikan berdampak pada kesuburan dan hasil panen yang maksimal. Perlakuan yang tepat dan efektif pastilah membawa dampak positif. Begitu jugalah pastinya dalam usaha menuntut kodrat anak sebagai seorang pendidik. Keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya tersebut dapat dicapai melalui pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.


Kegiatan Akhir Semester yang biasanya digunakan untuk lomba antar kelas (classmeeting) di SMAN 1 Sampung, merupakan waktu yang strategis untuk melakukan aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid. Rancangan program aksi nyata yang telah disusun sebelumnya sangat realistis untuk diterapkan. Jeda waktu 2 pekan setelah ujian semester genap dengan pembagian rapor bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan program pelatihan doubletrack yang saat ini terkendala karena waktu untuk pelatihan dilaksanakan pada saat hari libur, tentu saja hal tersebut mengurangi motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan tersebut. Rancangan aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid tersebut dilakukan dalam waktu 3 pekan, 1 pekan persiapan dan 2 pekan pelaksanaan. Aksi nyata dengan judul "Gelar Karya Pelatihan Doubletrack" ini melibatkan seluruh unsur yang berada di sekolahan. Tujuan utama dari program ini ialah memaksimalkan pelatihan doubletrack di sekolah yaitu bidang keterampilan tata busana dan tata boga. Kegiatan ini dilaksanakan mulai 14 - 29 Juni 2022. Siswa-siswi yang terlibat dalam kegiatan ini adalah kelas XI baik yang tergabung dalam kelompok keterampilan tata boga, tata busana dan juga yang tidak mengikuti keduanya. 



(Fact)

Kegiatan ini dimulai dari ide gagasan pelaksanaan kegiatan akhir semester sebagai program rutin pengurus OSIS. Suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam kegiatan ini sudah nampak dari awal perencanaan kegiatan (satu pekan sebelum pelaksanaan). Hasil yang didapat melalui kegiatan ini adalah produk pelatihan doubletrack dari setiap bidang. Pada bidang tata busana, tampak keaktifan peserta mengikuti rangkaian pelatihan. Ruang tata busana selalu ramai dipenuhi dengan ragam aktifitas siswa, ada yang belajar memotong bahan, menjahit, membuat pola dan ada juga yang mengemas. Begitu juga di ruang tata boga, ragam aktifitas murid dari membuat dan membentuk adonan, memasukkan ke dalam oven, membersihkan peralatan hingga mendokumentasikan produk. Ragam kue yang mereka buat, setiap hari mereka membuat kue yang berbeda, seperti bolen pisang coklat, kue ulang tahun, roll batik kukus, roti kukus roti sosis, nastar, cake tape, cake keju dan sarang semut. Suara, pilihan dan kepemilikan siswa benar-benar dapat terpenuhi melalui pengelolaan program ini. Pameran karya siswa menjadi penutup dari rangkaian pelatihan ini. Pada tanggal 29 Juni 2022 saat penerimaan rapor, siswa memamerkan hasil karya dan dijual kepada para pengunjung, yaitu orang tua/wali murid, bapak/ibu guru dan karyawan serta teman-teman mereka yang lainnya.


(Feeling, Fending, Future)

Saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Konsep tersebut saya temukan disaat melakukan aksi nyata ini. Sehingga perasaan saya sangat senang, kegiatan akhir semester di sekolah tampak hidup, komunitas siswa bergerak berkarya sesuai bidang masing-masing. Kebenaran konsep yang saya pelajari dapat saya buktikan melalui perencanaan pengelolaan program hingga implementasi aksi nyata dalam rancangan program tersebut. Ketika suatu program dikelola dengan baik dengan berbasis pada kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, memperhatikan kebutuhan anak maka anak akan benar-benar merasa memiliki kegiatan tersebut sehingga mereka akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Pengelolaan program yang berdampak pada murid seperti dalam aksi nyata yang dilaksanakan pada kegiatan akhir semester ini akan menjadi lebih berdampak apabila dilanjutkan pada kegiatan-kegiatan yang lain. Kolaborasi antar pihak, baik dengan guru/karyawan perlu ditingkatkan, jika pada awal rencana kita berharap murid merasa memiliki kegiatan ini, maka diperlukan upaya juga bahwa pengelolaan program yang berdampak pada murid ini juga dimiliki seluruh elemen yang ada di sekolahan. Sehingga peran setiap unsur akan menjadi lebih maksimal. Terlebih dengan berbagai proyek dalam implementasi kurikulum merdeka, proyek penguatan profil pelajar pancasila. 

Konsep pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah wujud dari keberpihakan seorang guru kepada murid. Oleh karena itu, upaya untuk mengenali karakteristik setiap murid tersebut merupakan langkah awal untuk menuntun mereka dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Jenis kegiatan yang baik adalah kegiatan yang benar-benar berdampak pada murid, kegiatan itu dibutuhkan murid untuk mengembangkan potensinya. Sehingga perencanaannya harus memperhatikan karakteristik, sumber daya/aset yang dimiliki oleh sekolah dan tantangan masa kini serta masa depan. Ketika suara, pilihan dan kepemilikan seorang murid terhadap suatu kegiatan telah terpenuhi maka kemandirian akan terbentuk sehingga rasa tanggung jawab akan menjadi modal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 




Senin, 13 Juni 2022

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antar Materi)

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan di dalam masyarakat. Kurikulum merdeka yang dijiwai oleh filosofis Ki Hajar Dewantara, memandang pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sehingga dapat dimaknai bahwa melalui pendidikan tidak sekedar melahirkan generasi yang cerdas, namun juga membangun peradaban manusia yang handal.

Sekolah sebagai tempat pendidikan formal adalah kesatuan dari berbagai aset, suatu komunitas untuk mewujudkan itu semuanya. Sekolah sebagai lembaga formal penyelenggara pendidikan, dimaknai sebuah ekosistem yang didalamnya terdapat interaksi antara berbagai aset, baik itu aset hidup maupun yang tidak hidup. Kelangsungan interaksi yang perlu untuk dijaga, dimaksimalkan dan bahkan diperbesar kemanfaatannya untuk mencapai tujuan pendidikan. Setiap aset yang dimiliki tersebut merupakan sumber daya yang memiliki peran sangat penting di dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Cara pandang seorang guru penggerak di dalam melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan yang ditetapkan. 

Terdapat dua cara pandang seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yaitu Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pendekatan yang akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Sedangkan yang kedua adalah Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking), pendekatan yang mengarahkan seorang pemimpin pembelajaran berdasarkan kekuatan aset yang dimiliki. Melalui pendekatan berbasis aset tersebut,, seorang pemimpin pembelajaran akan mengajak komunitasnya untuk fokus pada apa yang bekerja dan yang menjadi inspirasi, serta menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Selain itu, pendekatan berbasis aset ini adalah pendekatan untuk menuju perubahan ke arah positif yang melibatkan pihak-pihak di luar komunitas. 

Lalu bagaimana hal tersebut bisa diimplementasikan?

Kunci utama untuk menerapkan pendekatan berbasis aset adalah kepiawaian dalam mengidentifikasi aset/modal yang dimiliki oleh komunitas. Dalam hal ini pemimpin pembelajaran dapat mengelompokkan aset yang dimiliki ke dalam 7 modal, diantaranya: modal manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, serta modal agama dan budaya. Berpedoman pada 7 modal tersebut, pemimpin pembelajaran akan dapat melakukan identifikasi dengan rasional, peran setiap aset tersebut juga mudah untuk dipetakan. Bukan hanya aset yang ada di dalam komunitas, namun juga sesuatu yang berada di luar komunitas yang memiliki dampak jika dilibatkan dalam mencapai tujuan pendidikan. Sebagai contoh misalnya, pada modal agama dan budaya, masyarakat merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kebajikan baik yang dilandasi oleh nilai agama maupun budaya. Masyarakat adalah unsur yang berada di luar sekolah, namun begitu nilai kebajikan yang dimiliki oleh setiap murid dan dikembangkan di sekolah, akan mampu menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya. 

Ilustrasi Pemahaman

Pemimpin pembelajaran yang menerapkan pengelolaan sumber daya berbasis aset, adalah pemimpin pembelajaran yang mampu memandang masa depan dengan optimisme dan berbagai inovasi dengan memanfaatkan kekuatan aset yang dimiliki. Pengelolaan sumber daya yang tepat adalah pengelolaan sumber daya yang diawali dengan kemampuan untuk mengidentifikasi aset yang dimiliki, memetakan kebermanfaatannya dan menjaga setiap aset dapat berinteraksi secara dinamis serta berkembang. Harmonisasi pemanfaatan sumber daya ini tentunya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Setiap peran aset dapat dinilai dan diukur sehingga semuanya berjalan dengan efektif. Sehingga pada akhirnya pengelolaan sumber daya dengan tepat akan mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila seorang murid mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhan, memperoleh strategi pembelajaran sesuai dengan minat, mendapatkan pengajaran sesuai fase perkembangan, tercukupi kebutuhan sosial emosional maka kualitas pembelajaran mampu ditingkatkan sehingga murid akan merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran.

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya sangat berkaitan dengan materi-materi pada modul yang sudah dipelajari. Pada modul pemikiran Ki Hajar Dewantara misalnya, pemimpin dalam mengelola sumber daya sangat dipengaruhi oleh "patrap triloka" (ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani). Sekolah adalah komunitas dianggap sebagai ekosistem yang didalamnya terdapat unsur hidup dan tak hidup, keduanya saling berinteraksi. Pada interaksi inilah seorang pemimpin pembelajaran memiliki kewajiban memberikan teladan, memotivasi dan memberikan dorongan agar setiap aset bisa menunjukkan kebermanfaatannya untuk mencapai tujuan. Begitu juga dengan materi peran dan nilai guru penggerak, materi pengelolaan sumber daya ini adalah aktifitas rinci yang memuat bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya, yang dimulai dari perubahan paradigma. Cara pandang berpusat pada kekuatan aset, ini memperkuat pemahaman dalam membangun dan mengembangkan komunitas melalui penerapan Inquiry Apresiatif, diaman dalam konsep inquiry apresiatif juga fokus pada kekuatan, potensi dan hal positif lainnya yang dapat bekerja dengan baik melalui langkah-langkah BAGJA. 

Materi pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya memberikan pengetahuan baru dalam pengelolaan sumber daya. Pengembangan komunitas melalui pengelolaan sumber daya berbasis aset merupakan pilihan yang tepat. Fokus pada kekuatan setiap aset yang dimiliki akan mengajak pemimpin pembelajaran untuk berfikir jauh ke depan dengan berbagai gagasan dan inovasi. Sebaliknya apabila seorang pemimpin pembelajaran berfokus pada kekurangan, kesalahan maka ia akan larut dalam mencari apa yang tidak bekerja sehingga ia melupakan berbagai kekuatan aset yang dimiliki, tentu saja hal ini akan menghambat tercapainya tujuan. Pemahaman itulah yang pada akhirnya mengajak kita untuk merubah paradigma dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. 

 


Selasa, 26 April 2022

Koneksi Antar Materi - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani
Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila

Dalam menjalankan peran tersebut, sudah pasti terdapat berbagai tantangan yang mengharuskan untuk membuat suatu keputusan. Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang dipilih Berdasarkan kesadaran penuh (mindfullnes), keputusan yang telah melalui pertimbangan paradigma, prinsip berpikir dan dapat diuji efektivitasnya.

Disinilah Pratap Triloka buah pemikiran KHD memberikan warna utama, menjadi pondasi seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ing ngarso sung tuladha, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu menjadi teladan baik bagi murid maupun rekan sejawat. Ing Madyo Mangun Karso, keputusan yang diambil menumbuhkan motivasi bagi subyek yang terdampak, menumbuhkan motivasi murid untuk mengembangkan potensi, menumbuhkan motivasi rekan sejawat untuk bergerak mengusahakan perubahan kecil yang berdampak pada lingkungan belajar di sekolah. Bukan hanya memberikan motivasi, ada kalanya seorang pemimpin pembelajaran memposisikan dirinya berada di belakang, oleh karena itu setiap keputusan yang diambil harus mampu mendorong baik murid maupun rekan sejawat ketika mereka mengalami hambatan yang membuat mereka diam dan berhenti. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pratap triloka KHD menjadi sebuah prinsip bagi seorang pemimpin pembelajaran dalam membuat keputusan dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah seorang pemimpin yang harus mampu menjadi teladan, motivator dan pendorong bagi setiap orang yang dipimpin (murid maupun rekan sejawat)

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam dalam diri kita merupakan energi positif, nilai tersebut menggerakkan kita melakukan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan dan ketika kita bahagia, produktifitas sudah pasti akan meningkat besar. Sehingga melalui nilai-nilai tersebut seorang pemimpin pembelajaran membuat suatu keputusan berdasarkan prinsip-prinsip cara berfikir baik itu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Nilai-nilai dalam seorang pemimpin pembelajaran akan cenderung memilih opsi berfikir mana yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Nilai Guru Penggerak menjadi pondasi memperkuat peran sebagai Pemimpin Pembelajaran
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Proses coaching mampu membantu seorang pemimpin pembelajaran dalam memberdayakan segala potensi yang dimiliki, menentukan berbagai alternatif keputusan yang realistis,operasional dan bertanggungjawab. Keputusan yang diambil dalam praktik coaching efektif berdasarkan 9 langkah pengujian. Proses coaching model TIRTA yang benar mampu menjaga seorang pemimpin pembelajaran membuat alternatif keputusan dengan mempertimbangkan aspek dampak, paradigma, cara berfikir, sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kesadaran penuh.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam Pembelajajaran sosial emosional yang diadaptasi dari CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) terdapat 5 bidang kompetensi, diantaranya: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesadaran diri dapat diartikan: seorang guru yang mampu mengenali setiap kekuatan dan keterbatasan baik fisik maupun psikis dirinya sendiri dalam masa tertentu; sedangkan manajemen diri merujuk pada kemampuan seorang guru untuk mengelola setiap emosi, pikiran dan perilaku secara efektif; kesadaran sosial merupakan kemampuan guru untuk berfikir berdasarkan perspektif orang lain (menumbuhkan empati, termasuk menghargai perbedaan); keterampilan hubungan dapat difahami guru yang mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak secara efektif untuk mencapai tujuan dan yang terakhir pengambilan keputusan yang bertanggung jawab: menegaskan bahwa segenap kompetensi sosial emosional yang ada dalam diri seorang guru merupakan kondisi ideal untuk menentukan keputusan, karena keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan melalui kesadaran penuh dan bertanggungjawab.

Memperkuat pemahaman terhadap konsep materi melalui sesi kolaborasi 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada dasarnya, kasus yang fokus pada masalah moral dan etika itu melibatkan dilema nilai-nilai kebenaran dan kesalahan yang tumbuh, diyakini dan dipegang teguh suatu kelompok ataupun masyarakat. Benturan yang terjadi antara prinsip individu dengan berbagai peraturan yang diakui tidak dapat dihindarkan. Hal tersebut mendorong manusia untuk memanfaatkan prinsip berfikir humanis dan dapat dipertanggungjawabkan dengan berbagai alasan logis. Nilai-nilai kebajikan yang dianut seorang pendidik itulah yang menjadi dasar berfikir dalam pengambilan keputusan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang tepat adalah keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang ada didalam individu dan diakui juga oleh masyarakat/lingkungan yang terdampak dan dikatakan tepat, karena keputusan tersebut mampu menjawab dan mengatasi permasalahan secara efektif. Hal tersebut yang mendorong terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Persamaan persepsi terhadap nilai-nilai kebajikan sebagai ruh dalam pengambilan keputusan antara pemimpin dan orang yang dipimpin, membuat orang yang dipimpin merasa dihargai dan dilibatkan. Sehingga dengan kebahagiaan dan kenyamanan tersebut akan menumbuhkan produktifitas yang tinggi.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika, kesulitan yang muncul berasala dari perbedaan kepentingan, persepsi dan nilai yang dimiliki baik oleh seorang pemimpin pembelajaran maupun orang yang dipimpin. Cara pandang yang berbeda satu dengan yang lain dalam memaknai permasalahan menjadi tantangan tersendiri. Hal tersebut memunculkan tidak hanya persepsi benar melawan benar, namun juga kebenaran melawan kesalahan.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang efektif adalah keputusan yang diambil melalui pertimbangan paradigma, didasarkan pada prinsip pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas dasar nilai-nilai kebajikan yang dimiliki dan diakui oleh suatu komunitas. Mempertimbangkan berbagai dampak serta melibatkan kompetensi sosial emosional, empati, berfikir berdasarkan perspektif orang lain sehingga orang lain merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai unsur tersebut, murid benar-benar menjadi pusat pengajaran. Ia akan selalu merasa dilibatkan, merasa dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya, rasa bahagia, aman nyaman akan mendorong mereka untuk semakin produktif, mencapai kemerdekaan belajar.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi pertimbangan dampak dari suatu keputusan, yang pertama adalah dampak jangka pendek, yang kedua adalah jangka panjang. Jangka pendek dalam artian pemenuhan kebutuhan saat ini juga, seperti keinginan untuk diperhatikan, kasih sayang serta kebutuhan secara akademik/materi pembelajaran. Sedangkan jangka panjang dalam artian pemenuhan kebutuhan masa depan murid-murid kita. Pada pemenuhan jangka panjang ini, suatu keputusan diambil tidak hanya melibatkan paradigma dan cara berfikir saja. Namun diperlukan identifikasi yang komprehensif mengenai segala potensi, bakat dan minat seorang murid. Sebagaimana keberhasilan dalam pembelajaran berdiferensiasi, asesmen yang efektif tersebut akan menjadi pertimbangan berbagai dampak di masa depan atas alternatif setiap keputusan seorang pemimpin pembelajaran terhadap muridnya.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Prinsip pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, berkaitan erat dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, terutama dengan konsep triloka. Dalam menentukan suatu keputusan, seorang pemimpin harus menempatkan diri sebagai teladan, motivator dan pendorong bagi orang yang dipimpin. Nilai-nilai kebajikan sebagai dasar pengambilan keputusan juga bertalian dengan prinsip budaya positif yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran. Pembentukan keyakinan dan kesadaran atas konsekuensi dari perbuatan cenderung diwarnai oleh nilai-nilai kebajikan yang berlaku. Upaya memberdayakan manusia agar dapat menyelesaikan masalah melalui proses coaching menjaga setiap keputusan yang diambil adalah pilihan yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan karena telah melibatkan berbagai kompetensi sosial emosional. Sehingga keputusan yang diambil akan berdampak positif terhadap lingkungan sekolah (murid, rekan sejawat), membuat merasa nyaman, dilibatkan yang akan mampu meningkatkan produktifitas, mencapai kemerdekaan dalam belajar.