Rabu, 29 April 2020

Seribu Masker Untuk Negeri dari SMAN 1 Sampung (SMA Double Track)


Mengutip dari kompas.com, “Kita ingin setiap warga yang harus keluar rumah untuk wajib pakai masker”, kata Presiden Joko Widodo saat rapat dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona, Senin 6 April 2020.


Ide pembuatan masker siswa siswi DT Tata Busana pertama kali muncul pada malam ahad (22 Maret 2020) sepekan setelah pemberlakuan kebijakan belajar dari rumah, sebelum presiden menyampaikan keinginannya bahwa setiap warga yang keluar rumah harus menggunakan masker. Melalui koordinasi singkat via group WA Oemah Jahit dengan tema “Seribu Masker Untuk Negeri”. Pembuatan masker awalnya ditujukan untuk ikut serta menyukseskan kebijakan “social distancing” dalam menghadapi penyebaran COVID 19, untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar dan kelas XII ketika menghadapi UN. Namun dalam perkembangannya UN ditiadakan dan kebijakan belajar di rumah diperpanjang, sehingga produk masker pertama berjumlah 50 masker ditawarkan melalui media sosial. Animo masyarakat sangat luar biasa, 50 masker langsung habis diborong bahkan semakin banyak yang memesan. 
Belanja bahan, masker dibuat dari bahan baru, bukan kain sisa/bekas

Oleh karena itu, mempertimbangkan kebijakan “bekerja dan belajar dari rumah” tim pengelola memutuskan untuk memulai produksi masker dari rumah siswa-siswi peserta double track. Sepuluh mesin jahit dikirim ke rumah 10 siswa peserta double track, baik kelas XII maupun kelas XI. Proses pengerjaan direncanakan berlangsung selama kegiatan belajar di rumah dan mungkin akan diteruskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Target di awal adalah 100 masker dalam satu pekan. Namun dengan adanya peningkatan permintaan dan bertambah juga keterampilan siswa dalam memproduksi masker, dalam 1 pekan ditarget mampu membuat 500 masker. Target ini disesuaikan dengan jumlah permintaan masker.  
500 Masker Berbagai Model dan Bahan Pesanan Pelanggan
Ada 3 Spesifikasi masker yang dibuat oleh oemah jahit SMAN 1 Sampung diantaranya:
1.    Katun 2 lapis, berbahan katun motif dan katun toyobo dengan lubang ditengahnya sehingga bisa diberi tisu. Bahan katun sangat nyaman dan tidak pengap apabila digunakan beraktivitas di dalam maupun luar ruangan. Ada berbagai pilihan warna dan motif dengan harga 25k untuk 1 pack (5pcs). Sedangkan untuk yang berbahan toyobo 2 lapis, dijual dengan harga 30k untuk setiap 5 pcs.
2.    Katun toyobo 3 lapis, produk ini merupakan kelas pertamax, memang tidak terdapat tempat tisu, namun didalamnya sudah terdapat kain hero. Masker ini dijual dengan harga 10k untuk setiap 1 pcs. Kelebihan selain bisa dicuci berkali-kali, masker ini nyaman dipakai, meskipun dibuat dalam 3 lapis namun tidak pengap dan sangat protektif terhadap debu dan droplet (cipratan) batuk dan bersin.
3.    Berbahan kain spunbond, satu lapis dan dua lapis. Masker dengan kain spundbond harga bahan relatif lebih murah, dibandingkan 2 bahan lainnya. Namun mempunyai kelebihan, diantaranya tahan terhadap debu dan cipratan air, sehingga sangat direkomendasikan untuk orang umum (non medis) yang lebih berpotensi tertular covid 19. Daya tahan masker ini berkisar antara 3-5 kali pemakaian, dapat dicuci ulang.  
Per hari Senin, 13 April 2020 masker yang telah didistribusikan sebanyak 800 masker. Diantaranya 500 masker proyek dari Kepala SMAN 1 Sampung untuk dibagikan ke pada warga sekolah dan sekitar. Sedangkan, 300 masker lainnya dipesan oleh konsumen baik melalui offline maupun online. Untuk pengiriman luar kota, diantaranya sudah dikirim ke Madiun, Ngawi, Magetan, Pati Jawa Tengah, Surabaya, dan Singaraja Bali.
Untuk tingkat produktivitas, dalam satu pekan mampu menghasilkan 500 – 700 pcs masker. Sehingga apabila ada yang membutuhkan masker dengan harga wajar dalam jumlah sedikit maupun banyak, siswa-siswi DT SMAN 1 Sampung siap membuat dan mengirimkan ke seluruh Wilayah Indonesia.
Masker dikemas selanjutnya dikirim ke pemesan
Kegiatan evaluasi dilaksankan setiap hari, setiap siswa melaporkan jumlah produk masker yang dihasilkan maksimal pukul 17.00 setiap harinya, sedangkan bagian marketing akan menentukan besok pagi akan dikirim ke pemesan yang mana. Selama ini proses pembuatan masker sangat menjaga prinsip social dan physical distancing. Masker yang sudah jadi diambil ke rumah-rumah (ada yang bertugas) kemudian barulah dikirim ke pemesan. Apabila bahan habis, siswa bisa mengambil bahan ke sekolah dengan tetap koordinasi melalui WAG “Oemah Jahit”. Total pemasukan dari pembuatan masker mulai pertengahan Maret hingga pertengahan April 2020 ini mencapai Rp 3.124.000,00
Masker Terlaris (2 Layer + Tempat Tisu)
Motif utama dalam pembuatan masker ini adalah belajar dan berbagi, kami selaku pengelola ingin memotivasi lulusan dan siswa DT SMAN 1 Sampung untuk terus berkarya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Barulah kemudian menimbulkan rasa empati dan simpati untuk berbuat lebih dengan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut bermanfaat bagi orang lain. Terutama bermanfaat dalam upaya mencegah penyebaran COVID 19. Secara lebih jauh dan jangka panjang, kami mendorong mereka untuk berfikir kritis, kreatif inovatif, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan sumberdaya yang ada baik itu rekan maupun dunia usaha sehingga pada akhirnya menemukan solusi dari setiap permasalahan yang ada disekitar mereka. Sehingga pada akhirnya, usaha mereka akan berbuah kesejahteraan baik berupa materi dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan. Salam Gemilang!!

0 komentar:

Posting Komentar