Perangkat BK

Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.

Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung

Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA

Inovasi Bimbingan Klasikal

Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.

Rabu, 21 Januari 2026

Merbabu: Sebelum Langkah Pertama


(Pra Pendakian)

Ajakan naik gunung datang dari anak pertama saat ia menikmati libur akhir tahun pondoknya. Kali ini, ajakan itu tidak langsung saya iyakan. Tidak seperti Agustus lalu, ketika libur semester genap dan ia mengajak naik Gunung Lawu, yang langsung saya setujui tanpa banyak pertimbangan.

Alasannya sederhana tapi krusial: cuaca.
Dalam beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem kerap terjadi di gunung-gunung. Hujan deras disertai angin kencang menjadi kabar yang hampir setiap hari saya ikuti dari berbagai media. Apalagi Merbabu, gunung yang sejak awal sudah saya duga akan menjadi tujuan pendakian pilihan anak pertama untuk mengisi liburan akhir tahun.

Bahkan sebelum liburan dimulai, saya sudah rajin memantau kondisi cuaca Merbabu. Dari unggahan teman-teman pendaki, terlihat jelas hujan lebat dan angin kencang yang mampu merobohkan tenda di sabana. Ada pula kabar duka tentang seorang pendaki perempuan yang meninggal dunia akibat sambaran petir di jalur Suwanting.

Semengasyikkan apa pun naik gunung, keselamatan dan kenyamanan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Dan dalam hal ini, cuaca adalah faktor yang tidak bisa ditawar.

Baru di hari kelima liburan, saya akhirnya mengiyakan ajakan Khansa. Itu pun dengan satu catatan penting: jika sampai di basecamp hujan turun deras dan langit terlihat gelap, maka rencana pendakian akan dialihkan. Dalam pikiran saya, alternatifnya adalah camping santai di kawasan Ayana Gedong Songo, Semarang.

Seperti biasa, kami tidak berangkat sendirian. Anak kedua saya, Yasmine, yang masih kelas 5 MI, sengaja saya ajak ikut. Turut serta pula “pendaki legend” keluarga kami, Mbah Agung, yang selalu bisa diandalkan untuk mengawal selama pendakian. Ditambah dua pendaki penerus, Mas Falaah dan Kak Syita, rombongan terasa lebih lengkap dan tenang.

Rencana awal pendakian sebenarnya Sabtu, 27 Desember. Namun karena perlu melengkapi dan memastikan kesiapan peralatan, keberangkatan diundur satu hari menjadi Ahad, 28 Desember 2025. Keputusan ini semakin mantap karena prakiraan cuaca tanggal 27, 28, dan 29 Desember menunjukkan kondisi berawan hingga hujan ringan.

Pendaftaran pendakian Gunung Merbabu harus dilakukan secara daring. Jujur saja, agak merepotkan karena setiap pendaki wajib memiliki akun sendiri di laman resmi, kemudian ketua rombongan mendaftarkan satu per satu anggota. Jalur Selo akhirnya menjadi pilihan, mengingat beberapa basecamp lain (seperti Suwanting) sudah penuh hingga awal tahun baru. Selain itu, dari berbagai video pendaki yang saya lihat, jalur Selo relatif lebih ramah untuk anak-anak.

Namun Merbabu jelas berbeda dengan Lawu. Di Lawu, di beberapa pos bahkan hingga Sendang Drajat masih ada warung. Di jalur Merbabu? Tidak ada sama sekali. Karena mempertimbangkan cuaca yang cepat berubah, pilihan pendakian tektok (naik dan turun di hari yang sama) menjadi keputusan paling rasional.

Setelah rencana matang, saya mengajak anak-anak menyiapkan perlengkapan masing-masing. Saya sampaikan bahwa kami tidak menginap di jalur pendakian, melainkan di basecamp. Meski begitu, tenda tetap dibawa sebagai antisipasi, walaupun pada akhirnya tidak digunakan.

Instruksi saya sederhana:

  • Setiap orang membawa satu senter
  • Satu jas hujan
  • Dua botol air minum @600 ml
  • Dua buah kentang rebus dan dua butir telur sebagai sumber energi selama pendakian

Sebelum berangkat dari rumah, rundown pendakian saya sampaikan kepada anak-anak:

“Pendakian kita tektok. Urutannya begini: kita berangkat menuju basecamp, sampai di sana kita dirikan tenda, makan malam, lalu istirahat untuk menyimpan tenaga. Kita bangun pukul 01.00 dini hari untuk adaptasi dengan udara pegunungan, dan tepat pukul 02.00 pendakian dimulai. Kita naik sampai puncak, lalu langsung turun kembali.”

Dengan rundown itu, saya ingin anak-anak memahami bahwa mendaki gunung bukan sekadar soal sampai puncak, tetapi tentang kesiapan, disiplin, dan menghargai proses.

Semua persiapan ini mungkin terlihat sederhana, namun justru di fase pra pendakian inilah banyak keputusan penting diambil. Pendakian sesungguhnya akan dimulai beberapa jam lagi, saat gelap masih menyelimuti lereng Merbabu, dan langkah pertama kami dari jalur Selo menjadi awal cerita berikutnya.