(Pra Pendakian)
Ajakan naik gunung datang dari anak
pertama saat ia menikmati libur akhir tahun pondoknya. Kali ini, ajakan itu
tidak langsung saya iyakan. Tidak seperti Agustus lalu, ketika libur semester
genap dan ia mengajak naik Gunung Lawu, yang langsung saya setujui tanpa banyak
pertimbangan.
Bahkan sebelum liburan dimulai, saya
sudah rajin memantau kondisi cuaca Merbabu. Dari unggahan teman-teman pendaki,
terlihat jelas hujan lebat dan angin kencang yang mampu merobohkan tenda di
sabana. Ada pula kabar duka tentang seorang pendaki perempuan yang meninggal
dunia akibat sambaran petir di jalur Suwanting.
Semengasyikkan apa pun naik gunung,
keselamatan dan kenyamanan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Dan dalam
hal ini, cuaca adalah faktor yang tidak bisa ditawar.
Baru di hari kelima liburan, saya
akhirnya mengiyakan ajakan Khansa. Itu pun dengan satu catatan penting: jika
sampai di basecamp hujan turun deras dan langit terlihat gelap, maka rencana
pendakian akan dialihkan. Dalam pikiran saya, alternatifnya adalah camping
santai di kawasan Ayana Gedong Songo, Semarang.
Seperti biasa, kami tidak berangkat
sendirian. Anak kedua saya, Yasmine, yang masih kelas 5 MI, sengaja saya ajak
ikut. Turut serta pula “pendaki legend” keluarga kami, Mbah Agung, yang selalu
bisa diandalkan untuk mengawal selama pendakian. Ditambah dua pendaki penerus,
Mas Falaah dan Kak Syita, rombongan terasa lebih lengkap dan tenang.
Rencana awal pendakian sebenarnya
Sabtu, 27 Desember. Namun karena perlu melengkapi dan memastikan kesiapan
peralatan, keberangkatan diundur satu hari menjadi Ahad, 28 Desember 2025.
Keputusan ini semakin mantap karena prakiraan cuaca tanggal 27, 28, dan 29 Desember
menunjukkan kondisi berawan hingga hujan ringan.
Pendaftaran pendakian Gunung Merbabu
harus dilakukan secara daring. Jujur saja, agak merepotkan karena setiap
pendaki wajib memiliki akun sendiri di laman resmi, kemudian ketua rombongan
mendaftarkan satu per satu anggota. Jalur Selo akhirnya menjadi pilihan, mengingat
beberapa basecamp lain (seperti Suwanting) sudah penuh hingga awal tahun baru.
Selain itu, dari berbagai video pendaki yang saya lihat, jalur Selo relatif
lebih ramah untuk anak-anak.
Namun Merbabu jelas berbeda dengan
Lawu. Di Lawu, di beberapa pos bahkan hingga Sendang Drajat masih ada warung.
Di jalur Merbabu? Tidak ada sama sekali. Karena mempertimbangkan cuaca yang
cepat berubah, pilihan pendakian tektok (naik dan turun di hari yang sama)
menjadi keputusan paling rasional.
Setelah rencana matang, saya
mengajak anak-anak menyiapkan perlengkapan masing-masing. Saya sampaikan bahwa
kami tidak menginap di jalur pendakian, melainkan di basecamp. Meski begitu,
tenda tetap dibawa sebagai antisipasi, walaupun pada akhirnya tidak digunakan.
Instruksi saya sederhana:
- Setiap orang membawa satu senter
- Satu jas hujan
- Dua botol air minum @600 ml
- Dua buah kentang rebus dan dua butir telur sebagai
sumber energi selama pendakian
Sebelum berangkat dari rumah, rundown pendakian saya sampaikan kepada anak-anak:
“Pendakian kita tektok. Urutannya begini: kita berangkat
menuju basecamp, sampai di sana kita dirikan tenda, makan malam, lalu istirahat
untuk menyimpan tenaga. Kita bangun pukul 01.00 dini hari untuk adaptasi dengan
udara pegunungan, dan tepat pukul 02.00 pendakian dimulai. Kita naik sampai
puncak, lalu langsung turun kembali.”
Dengan rundown itu, saya ingin
anak-anak memahami bahwa mendaki gunung bukan sekadar soal sampai puncak,
tetapi tentang kesiapan, disiplin, dan menghargai proses.
Semua persiapan ini mungkin terlihat
sederhana, namun justru di fase pra pendakian inilah banyak keputusan penting
diambil. Pendakian sesungguhnya akan dimulai beberapa jam lagi, saat gelap
masih menyelimuti lereng Merbabu, dan langkah pertama kami dari jalur Selo
menjadi awal cerita berikutnya.







0 komentar:
Posting Komentar