Rabu, 28 Januari 2026

Isi Kepala yang Tak Pernah Kuceritakan

Pengantar

Cerita ini tentang seseorang yang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya menyimpan banyak hal sendirian. Marah, kecewa, dan rasa tidak dipahami ia pendam lama-lama, tanpa pernah benar-benar dikeluarkan. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tapi di dalam kepalanya, emosi itu pelan-pelan membentuk cara berpikir dan mendorongnya menyusun rencana yang ia anggap sebagai solusi. Cerita ini mengajak kita melihat bahwa saat emosi tidak diolah dengan sehat, keputusan yang diambil pun bisa menjauhkan kita dari jalan yang sebenarnya kita butuhkan.

Sejak kecil, ia terbiasa menyimpan banyak hal.
Kemarahan, kecewa, rasa tidak dipahami—semuanya disimpan rapi, seolah jika cukup lama dipendam, rasa itu akan hilang dengan sendirinya.

Tapi waktu tidak pernah benar-benar menghapus apa pun.
Ia hanya menumpuk.

Tahun demi tahun berlalu, dan tumpukan itu berubah menjadi pikiran-pikiran yang berisik.
Tentang siapa yang salah.
Tentang luka yang tak pernah diakui.
Tentang rasa bersalah yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.

Di kepalanya, ia mulai menyusun sesuatu.
Bukan secara tiba-tiba.
Semua terasa logis.
Teratur.
Rapi.

Ia menyebutnya pembalasan.
Kadang ia menyebutnya penebusan dosa.
Kadang ia merasa, “Ini satu-satunya cara agar semuanya selesai.”

Di catatan ponselnya, kalimat-kalimat panjang tersusun.
Tentang masa lalu.
Tentang rasa sakit.
Tentang alasan mengapa semua ini “harus” dilakukan.

Semakin rapi rencananya, semakin ia merasa benar.

Namun suatu malam, saat membaca ulang tulisannya, ada satu hal yang membuatnya berhenti.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi menampar:
tidak ada satu pun bagian dari rencana itu yang benar-benar membuatnya tenang.

Yang ada hanya kemarahan yang dibungkus alasan.
Luka yang dipoles kata-kata.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Kalau ini penebusan dosa, kenapa rasanya semakin gelap?

Ia menutup layar.
Duduk lama dalam diam.
Dan akhirnya mengakui satu hal yang selama ini ia hindari:
yang ia butuhkan bukan pembalasan,
melainkan pertolongan.

Keesokan harinya, langkahnya pelan menuju ruang yang selama ini ia lewati begitu saja.
Ia tidak membawa rencana.
Tidak membawa pembenaran.

Hanya membawa keberanian kecil untuk berkata,
“Saya tidak baik-baik saja.”

Dan untuk pertama kalinya,
ia memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Refleksi

Cerita ini bukan tentang orang jahat.
Ini tentang orang yang terlalu lama menyimpan semuanya sendirian.

Kemarahan, kecewa, rasa tidak dipahami—kalau dipendam terus, tidak hilang.
Ia berubah jadi pikiran yang berisik, berat, bahkan bisa mendorong seseorang menyusun rencana yang terasa “benar”, padahal perlahan justru melukai diri sendiri.

Tokoh dalam cerita akhirnya sadar:
bukan pembalasan yang ia butuhkan,
bukan pembenaran,
tapi keberanian untuk mengakui bahwa ia tidak baik-baik saja dan butuh bantuan.

👉 Pertanyaan reflektif (tulis di kolom komentar):
Kalau kamu berada di posisi tokoh dalam cerita, hal apa yang seharusnya ia lakukan lebih awal agar semua tidak semakin gelap?

0 komentar:

Posting Komentar