Perangkat BK
Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.
Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung
Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA
Inovasi Bimbingan Klasikal
Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.
Rabu, 09 Juni 2021
Sambutan di TK nya Yasmine
Kamis, 27 Mei 2021
Dihadiri 20 siswa dan 4 orang tua, pelepasan Siswa Kelas XII SMAN 1 Sampung dilaksanakan secara 'daring & luring'
| Kepala sekolah memberikan sambutan dan menyerahkan kembali siswa kepada orang tua |
| Lulusan terbaik tahun pelajaran 2020/2021 |
Senin, 29 Maret 2021
“Membumikan” Pelajaran Fisika
“Fisika itu asyik”, demikian kalimat pendek yang sering dilontarkan Prof. Yohanes Surya, Ph.D. seorang ahli fisika kelas wahid Indonesia yang sangat getol mengembangkan ilmu tersebut, dan terkenal dengan konsep fisika Gasing. Fisika yang selama ini sering menjadi momok bagi siswa, beliau telah berusaha mengubahnya menjadi pelajaran yang menyenangkan bahkan semakin digandrungi siswa. Demikian juga guru sebagai fasilitator pembelajaran harus mampu membuat siswa tertarik untuk terus menggali dan mempelajari fisika sebagai fenomena, bukan hanya sekedar mata pelajaran yang harus ditempuh siswa sebagai pelengkap kurikulum, namun lebih dari itu sangat tinggi nilai yang terkandung di dalamnya.
Dari fisikalah sebagian besar penemuan di bidang teknologi berasal, selain tentunya banyak sekali peristiwa fisika yang ada di sekitar kita namun kita sering tidak mempedulikannya padahal hal tersebut menjadi awal kelahiran sebuah penemuan atau setidaknya dari sanalah pemikiran dan ide-ide baru berasal. Seorang guru hendaknya bisa mengangkat tema kecil yang ada di sekitarnya sehingga tema itu menjadi menarik bagi sang anak untuk terus digali dan dikembangkan. Kemampuan guru untuk menciptakan daya rangsang alam fikir anak inilah yang mempunyai nilai tertinggi dalam proses pembelajaran kita. Dengan kata lain, guru yang sukses adalah guru yang bisa menggugah daya rangsang fikiran peserta didik sehingga peserta didik terus haus akan ilmu tersebut.
Kecepatan cahaya misalnya, adalah fenomena fisika yang menarik untuk dicermati karena dalam kehidupan kita tidak lepas dari cahaya tersebut. Cahaya yang memiliki kecepatan, c = 3 x 108 m/s mengandung arti, dalam satu sekon, cahaya mampu melesat sejauh tiga ratus juta meter. Kasarnya, jika satu sekon sama dengan satu kedipan, maka dalam satu kedipan, cahaya menempuh jarak sejauh tiga ratus juta meter. Fenomena ini menjadi sangat menakjubkan tatkala kita memasukkannya dalam unsur soal yang dapat memancing logika dan alam fikir siswa. Mereka akan terkagum-kagum dengan ‘keajaiban’ kecepatan cahaya ini. Guru harus memulainya dengan kehidupan nyata yang sederhana seperti ini. Dengan demikian anak akan semakin senang untuk mempelajari kompetensi tentang kecepatan yang selama ini dianggapnya tidak menarik.
Siswa hanya butuh rumus sederhana dalam mempelajari
fenomena jarak, kecepatan dan waktu. Setiap hari, sebagian besar siswa menggunakan motor ke sekolah. Dengan memperhatikan speedometer (catatan : kecepatan dibuat tetap) dan waktu tempuh, siswa sudah dapat menghitung
jarak rumahnya ke sekolah. Jarak (s) dapat diperoleh dengan mengalikan kecepatan (t) dan waktu tempuh (t). Sehingga diperoleh formula
. Dari formula tersebut, waktu tempuh dapat dicari dengan cara
. Dengan membuat contoh seperti ini
akhirnya anak mengganggap ada hubungan antara fisika dengan kehidupan kita
walaupun hal yang kecil dan sederhana.
Memberi contoh dengan peristiwa keseharian
Mari kita cermati keajaiban cahaya dalam beberapa fenomena berikut : Jarak bumi – matahari lebih kurang 150 juta km. Cahaya dengan kecepatannya 3 x 108 m/s dapat melintasi jarak bumi matahari dalam waktu 500 sekon atau 8,33 menit
. Dari
sini seorang guru bisa menanamkan nilai karakter akan kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa yang telah menciptakan cahaya dengan segala kemanfaatannya dalam kehidupan
manusia yang begitu agung.
Contoh sederhana berikutnya, siswa bisa diajak berandai dengan jarak penerbangan dari Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) ke
Surabaya (Bandara Juanda) adalah sekitar 691,8 km, dengan
waktu tempuh pesawat kira-kira 1 jam 25 menit. Jika cahaya yang melakukan
perjalanan ini, cahaya hanya membutuhkan waktu 0,002 sekon.
. Silakan selanjutnya sang anak diberikan
kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya dengan contoh-contoh yang sejenis
yang jumlahnya masih banyak di sekitar kita.
Dibidang transportasi misalnya, Maglev adalah kereta tercepat yang pernah dimiliki Tiongkok, memiliki kecepatan 430 km/jam atau setara dengan 119,4 m/s. Perjalanan dari Pudong ke bandara Shanghai hanya memakan waktu delapan menit (Dahlan Iskan, 2007). Jika kita bandingkan kecepatan Maglev dengan kecepatan cahaya, diperoleh nilai 1 : 2,5 juta. Artinya, kendaraan darat tercepat buatan manusia tersebut belum dapat melampaui keajaiban kecepatan cahaya, suatu keajaiban yang diciptakan oleh yang maha kuasa.
Demikian juga dengan petir merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan dan beberapa saat kemudian disusul oleh suara yang menggelegar. Hal ini membuktikan bahwa kecepatan cahaya mendahului kecepatan bunyi. Sekaligus dari peristiwa petir ini, sang siswa bisa diajak bagaimana mengantisipasi kalau terjadi petir dalam setiap kesempatan dan kondisi yang berbeda-beda. Karena bisa saja, saat mereka berada di perjalanan, di sawah, di lapangan terbuka terjadi petir yang bisa mengancam keselamatannya. Dengan demikian, bisa dipakai untuk mengantisipasi keselamatan dirinya dari ancaman sang petir tersebut sekaligus sang siswa bisa mengembangkan pengetahuannya tersebut kepada orang lain.
Kecepatan gelombang elektromagnetik setara dengan kecepatan cahaya. Pada ranah ini, manusia hanya diijinkan dapat melihat pada spektrum cahaya tampak saja. Apa jadinya jika manusia mampu menembus sinar gamma ataupun gelombang radio? Hidup ini indah karena kita hanya mampu melihat cahaya tampak saja. Hidup akan semakin rumit jika kita mampu melihat gelombang radar, tv, radio berseliweran. Juga bakteri, kuman di sekitar kita akan membuat kita pusing jika kita mampu melihat dengan mata telanjang. Akhirnya kita bisa bersyukur dengan tidak dapat melihat semua fenomena ini berarti mengurangi resistensi kehidupan kita pada alam sekitar pula. Nilai syukur tertanam melalui pelajaran fisika pula.
Membangun karakter dengan fisika
Dari beberapa peristiwa tersebut, untuk membangun nilai dan keimanan
siswa, guru bisa mengaitkan dengan Peristiwa
Isro Mi’roj Nabi Muhammad
Saw. “Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Israa’ , 17: 1). Juga dikaitkan dengan Firman
Allah, “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu
adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (QS. Al-Hajj: 47).
Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa perjalanan luar biasa itu bukan kehendak dari Rasulullah Saw sendiri, tapi merupakan kehendak Allah Swt. Untuk keperluan itu Allah swt mengutus malaikat Jibril as sebagai pemandu perjalanan suci tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pengiring perjalanan Rasulullah Saw dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi dimensi ruang dan waktu. Selain Jibril as dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Perjalanan dari kota Mekkah ke Palestina berkendaraan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilo meter per detik.
Jarak Mekkah (Masjidil Haram) – Palestina (Masjidil Aqsha) sekitar 1500 km ditempuh dengan kecepatan cahaya, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0,005 detik dalam ukuran waktu kita di bumi. Perjalanan dilanjutkan menuju langit ketujuh pada saat itu juga.
Dalam Qs Al Hajj Allah seolah ingin menunjukkan bahwa secara logika 1 hari diakhirat sama dengan 1000 tahun didunia, 3 jam diakhirat sama dengan 125 tahun didunia, artinya 1,5 jam diakhirat sama dengan 62,5 tahun didunia. Itulah gambaran umum umur manusia dibumi yang rata-rata 60-70 tahun setara 1,5 jam, maka dalam istilah jawa hidup hanya seperti mampir ngombe, hanya sebentar hidup di dunia.
Albert Einstein, dengan konsep Relativitas mampu memberikan gambaran ilmiah terhadap peristiwa itu. Kajian di atas mengungkapkan teori relativitas dalam dimensi waktu. Adanya dibatasi waktu yang dipengaruhi oleh gerak relatif, akan berpengaruh juga pada pengukuran panjang (jarak). Peristiwa pengerutan panjang ini disebut dengan kontraksi Lorentz, yang dirumuskan dengan 1 – (v2/c2) = (L’/L)2.
Dengan mengaitkan yang demikian guru bukan sekedar mengajak belajar fisika secara mentah, namun sang guru telah memberi “isi’ pelajaran fisika tersebut dengan nilai keimanan, sekaligus mengajarkan bahwa semua ciptaan Allah Swt tersebut bisa dikaji secara ilmiah. Qun fayakun bukan berarti Allah Swt mencipta langsung ada (langsung jadi) seperti photo copy, namun semua itu berproses secara saintifik.
Sering siswa ketika mempelajari sesuatu belum sampai pada jawabnya sudah menjawab itu adalah takdir. Mereka tidak mengira bahwa takdir itu adalah sebuah proses yang diciptakan Allah Swt dalam mencipta suatu makhluk dengan proses yang ilmiah. Pemahaman jenis ini juga sering tidak dipahami secara utuh. Barangkali berangkat dari inilah pembelajaran saintifik yang dikembangkan oleh Mendikbud Prof. M. Nuh, Ph.D. untuk membedakan kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya mengingat beliau juga berasal dari kalangan saintis sekaligus teknokrat selain ustadz juga.
Luar biasa ketika seorang guru mampu mengajak siswanya untuk berpikir dan merenung atas segala fenomena yang berkaitan langsung dengan fisika atau dengan peristiwa alamiah di sekitar kita. Perenungan yang mendalam dapat merangsang daya kritis yang pada akhirnya membuat siswa menjadikan mata pelajaran ini ‘candu’, bukan sebaliknya malah ditakuti oleh anak.
Siswa terlatih untuk menggali dan mencari mutiara di balik ilmu yang mereka pelajari. Penggalian ilmu tidak harus dengan teori yang muluk-muluk, namun bisa dengan peristiwa sekitar dan itu justru akan menarik bagi siswa. Itulah pelajaran yang konstektual dan saintifik. Semoga dengan ikhtiar yang sudah dilakukan, dapat melahirkan generasi-generasi unggul yang haus akan ilmu dan mampu mengembangkannya untuk kebaikan hidup manusia. Dan ingat, masa depan anak adalah apa yang kita tanam hari ini.
Daftar Rujukan :
Iskan, Dahlan. 2007. Pelajaran dari Tingkok. Surabaya : JP Books.
http://mosleminfo.com/2013/06/05/isra-miraj-dalam-kacamata-sains-modern.html.
diunduh Selasa, 22 April 2014
http://heriwidiyantoro.blogspot.com/2012/07/sains-menyakinkan-kebenaran-isra-miraj.html. diunduh Selasa, 22 April 2014
Pembelajaran Fisika dengan Media Komik
Fisika….Why Not?
Ada yang bilang fisika itu sulit…
Rumit dan banyak rumusnya…
Ada yang bilang fisika itu membosankan, bikin bête,
pusing dan gak asyik
Serta ada juga yang bilang fisika itu menakutkan…
Pokoknya komplit deh … untuk dibenci …
Tapi ternyata fisika itu mudah…
Gampang, asyik dan menyenangkan…
Serta ada tantangan untuk mencoba dan mencoba,
Benarkah….???
Mulai hari ini, ubah mindset (pola pikir) anda…
Fisika jadi super gampang, menarik dan tentunya
gak bikin pusing n beteeee…..
Kebanyakan siswa SMA selama ini menganggap
materi fisika yang cukup padat dan memerlukan kemampuan mengafal rumus serta
materi menjadi salah satu faktor mengapa fisika sulit dipahami. Takut akan
gagal di mata pelajaran fisika, masih menjadi momok menakutkan bagi setiap
siswa SMA apalagi fisika masuk materi Ujian Nasional.
Fisika, suatu kata itu muncul dengan sekelumit
kejadian dan fenomena alam yang tidak disadari merupakan bagian dari kehidupan
kita sehari-hari. Mungkin para penemu terdahulu tidak menyadari akan begitu
penting dan berharganya apa yang telah mereka temukan dan hasilkan sampai saat
ini.
Padahal sebetulnya fisika dapat memberi jawaban
atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana fenomena alam terjadi yang
melibatkan keterampilan dan penalaran. Fisika menitikberatkan pada aspek kerja
ilmiah, pemahaman konsep dan penerapannya sehingga siswa memiliki kemampuan
untuk dapat mendemonstrasikan, menunjukkan kreativitas dan memecahkan masalah
serta bersikap ilmiah (keterkaitan antara fisika dan lingkungan).
Fisika itu menyenangkan jika kita memahami.
Fisika ada dimana-mana, didalam bus, didapur, dihalaman rumah dan lainnya.
Ketika kita menaiki bus, lalu tubuh terjungkal kedepan karena sopir mengerem
mendadak, itu salah satu contoh peristiwa fisika dalam hukum Newton. Di lain
waktu, mungkin kalian pernah tenggelam saat berenang karena mengira kolam
renang dangkal padahal dalam, itu disebabkan karena pengaruh pembiasan cahaya
yang dipelajari di fisika dan masih banyak lainnya.
Banyak orang tidak menyadari kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Contoh sederhana jam tangan mekanik yang melingkar
di tangan. Si pemakai jam tangan mungkin tidak menyadari bahwa di dalam jam
tangannya terdapat ilmu pengetahuan. Gabungan roda-roda bergigi yang ada didalam jam tangan senantiasa bergerak dengan
kecepatan tertentu sehingga menghasilkan penunjukan waktu yang tepat.
Dalam fisika, roda gigi merupakan bagian dari mesin yang berputar untuk
mentransmisikan daya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang saling bersinggungan
dengan gigi dari roda gigi yang lain. Dua atau lebih dari gigi yang
bersinggungan dan bekerja bersama-sama disebut trasmisi roda gigi. Roda gigi
mampu mengubah kecepatan putar, torsi, dan arah daya terhadap sumber daya.
Keuntungan mekanis roda gigi diperoleh melalui rasio jumlah gigi yang ada.
Itu merupakan sekelumit contoh penerapan fisika
dalam iptek. Fisika ( physics ) dalam
KBIP (2006:268) adalah ilmu yang berupaya memahami alam secara ilmiah;
menganalisis alam dengan induksi yang berstandar pada pengamatan dan percobaan;
menemukan hukum-hukum yang bekerja dalam alam sehingga memperoleh suatu system
yang teratur atau terbentuk pandangan ilmiah tentang dunia dengan penjelasan
yang masuk akal.
Pengajaran
adalah proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan perihal mengajar,
segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan (tentang pengalaman, peristiwa
yang dialami atau dilihatnya). (Save M Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, 2006).
Pengajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan
kepada siswa. Pengajaran juga diartikan sebagi interaksi belajar dan mengajar.
Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses yang saling mempengaruhi antara
guru dan siswa.
Pembelajaran
dalam Asrori (2007:6) adalah suatu proses perubaan tingkah laku yang diperoleh
melalui pengalaman individu yang bersangkutan melalui panca indera yaitu
penglihatan, pendengaran, pembauan, rasa/pengecap, dan sentuhan. Sehingga dalam
proses pembelajaran tidak hanya melibatkan penguasaan fakta atau konsep suatu
bidang ilmu saja, tetapi juga melibatkan pengalaman siswa.
Mata pelajaran fisika sebagai ilmu pengetahuan
harus dipelajari menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakteristiknya.
Selaras dengan amanat Kurikulum 2013, fisika dapat dipelajari menggunakan
pendekatan ilmiah (scientific approach)
melalui metode penemuan (discovery) dengan
melakukan pembelajaran mulai dari mengamati, menanya, mengasosiasi, dan
mengkomunikasikan. Sehingga fisika juga diharapkan mampu mewujudkan pribadi yang
beriman, produktif, kreatif, inovatif serta berkontribusi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Lesle J Briggs dalam Rudi Susilana (2007:65)
menyatakan bahwa media pembelajaran adalah alat untuk memberi perangsang bagi
peserta didik supaya terjadi proses belajar. Sedangkan efektifitas penggunaan
media menurut Brown dalam Rudi Susilana (2007:65) menggaris bawahi bahwa media
program belajar yang digunakan guru atau
siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektivitas program belajar mengajar.
Penggunaan media pembelajaran dalam fisika saya
rasa mutlak diperlukan untuk memperjelas
dan mempermudah pemahaman siswa pada materi fisika, mempersingkat waktu, tenaga
dan daya indera. Dengan media yang baik dan tepat dapat menimbulkan gairah
belajar, siswa dapat berinteraksi langsung dengan sumber belajar dengan
difasilitatori guru serta memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan
bakat dan minatnya demi mengasah keterampilan fisikanya agar bisa mencari
jawaban atas fenomena alam yang terjadi.
Komik (comic)
dalam KBIP (2006:513) adalah cerita bergambar seperti dalam majalah, surat
kabar, atau berbentuk buku yang umumnya mudah dicerna dan lucu. Jadi komik
menurut pandangan saya sebagai bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan
menerapkan suatu cerita dalam urutan yang erat hubungannya dengan gambar dan dirancang untuk memberikan
hiburan dan kemudahan mencerna makna/isi. Kami rasa media komik dalam fisika
sangat cocok diterapkan untuk membantu dan mempermudah siswa dalam memahami dan
mempelajari fisika, terutama bagi siswa SMA yang ada di pinggiran karena selama
ini siswa memiliki kecenderungan sulit memahami materi fisika yang abstrak dan
banyak rumus sehingga perlu ditampilkan gambar fiksi dan nyata untuk
memfaktakan konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari.
Kecenderungan dari kebanyakan siswa kita tidak
begitu menyukai buku-buku teks apalagi yang tidak disertai gambar dan ilustrasi
yang menarik. Hal inilah yang mengilhami penulis untuk mencoba mempermudah
pemahaman siswa, salah satunya dengan komik
fisika. Secara empirik siswa cenderung lebih menyukai buku yang bergambar,
yang penuh warna dan divisualisasikan dalam bentuk realistis maupun kartun. Penyajian
dari komik yang mengandung unsur visual dan cerita yang kuat membuat pembaca
terlibat secara emosional sehingga diharapkan mampu meningkatkan minat siswa
dan memudahkan siswa dalam memahami materi fisika dan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Pembelajaran fisika dapat dikembangkan dengan
cara mencari gambar asli/komik yang ada di berbagai media dan lingkungan
sekitar. Sebagai contoh dalam menerangkan gaya gesekan kita dapat mencari
gambar macam-macam ban dari pirelli, michellin, bridgestone sampai swallow, GT
radial, IRC dan lain-lain di internet, gambar yang didapatkan di internet atau
berbagai media ditampilkan ke siswa, sehingga kita dapat menjelaskan kepada
siswa tentang lukisan/guratan yang ada pada ban, terutama guratan ban racing
dengan yang biasa. Atau menanyakan kepada siswa tentang perbedaan penggunaan
ban di balapan F1 pada cuaca panas dengan hujan, sehingga siswa dapat belajar
tentang gaya gesekan .
Selain itu dalam menjelaskan prinsip Bernoulli
pada fluida bergerak, kita dapat mencari gambar macam-macam mobil di internet
seperti Ferrari, BMW, Mercedes sampai Toyota, daihatsu, suzuki, honda dan
lain-lain. Gambar asli / karikatur komik ditampilkan kesiswa dan menjelaskan
mobil mana yang larinya lebih cepat dan mobil mana yang harganya lebih mahal.
Jadi dengan gambar/komik tersebut diharapakan siswa mengetahui secara detail
pemanfaatan teori fisika yang banyak diterapkan untuk kemajuan teknologi.
Kemampuan
guru dalam menguasai bahan yang diajarkan, antusiasme dan kemenarikan dalam
mengajar akan mampu menarik antusiasme dan minat perhatian siswa. Hal ini
penting dalam upaya membangun dan mengembangkan motivasi belajar siswa karena
tidak sedikit siswa yang menjadi tidak tertarik kepada pelajaran fisika karena
gurunya tidak menguasai bahan ajar, tidak antusias, dan tidak menarik dalam
mengajar. Sekali lagi penulis berharap dengan media komik fisika, siswa tidak
perlu lagi menganggap fisika itu pelajaran yang abstrak, rumit, banyak rumus,
tetapi menjadi pelajaran yang nyata, super gampang, menarik dan tentunya gak
bikin pusing, karena dari fisikalah sebagaian besar penemuan teknologi
dilahirkan.
DAFTAR RUJUKAN
Dagun, Save M. 2006. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN).
Asrori, Muhammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
Susilana, Rudi dkk. 2007. Media Pembelajaran. Bandung : CV Wacana Prima.
Woo, Son Jeong.2014. Science Dunia Fisika.Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Novianti, Endah Nawang.2015. Motion and Energy 3. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
http://teras-fisika.blogspot.co.id/2012/12/makalah-pengantar-pendidikan-belajar_3196.html
Minggu, 21 Maret 2021
(LAPORAN PENGEMBANGAN DIRI) Seminar dan Pelatihan "Merubah Paradigma Mengajar dan Meningkatkan Kompetensi Penguasaan Aplikasi Digital Gurunya Generasi Net pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru"
Mempertimbangkan berbagai permasalahan yang timbul selama kebijakan belajar dari rumah sekaligus mempersiapkan guru yang terampil memanfaatkan berbagai aplikasi digital untuk melayani generasi Net, maka diperlukan penyegaran dan motivasi bagi guru-guru di sekolah. Guru sebagai tenaga profesional dituntut untuk dinamis dan terus mengupdate kemampuan guna memberikan pelayanan terbaik badi peserta didik di sekolah.
Transformasi teknologi yang begitu cepat mendorong teknologi digital bukan hanya menjadi kebutuhan namun sudah menjadi gaya hidup. Hal tersebut tentu saja berpengaruh pada kebiasaan dan perilaku peserta didik. Sehingga, mengenali karakteristik peserta didik menjadi hal yang sangat penting untuk memberikan pelayanan maksimal. Setelah guru mampu mengenali karakteristik peserta didik, berikutnya guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran perlu mengembangkan media dan metode pembelajaran yang disukai oleh siswa. Atas dasar itulah, perlu diadakan upaya pengembangan kompetensi guru untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa siswi di sekolah.
Kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari mulai tanggal 4 s/d 7 Agustus 2020 ini dikemas dalam seminar dan pelatihan dengan tema "Merubah Paradigma Mengajar dan Meningkatkan Kompetensi Penguasaan Aplikasi Digital Gurunya Generasi Net pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru". Kegiatan yang dilaksanakan mulai hari Selasa, 4 Agustus 2020 dibuka oleh Drs. H. Nurhadi Hanuri, M.M (Ka Cab. Disdik Wilayah Ponorogo Magetan) sekaligus beliau memberikan materi tentang Pengelolaan Organisasi dan Manajemen Sekolah di Era Digital. Hari kedua, kegiatan difasilitasi oleh Pengawas SMA/Pk-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo Magetan, Drs. H. Kateno, M.Pd dengan tema Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi, dilanjutkan dengan Penyesuaian Kurikulum Masa Pandemi Covid 19 dan Penggunaan aplikasi zoom sebagai media pembelajaran tatap muka.
Hari ketiga pelatihan, menghadirkan Pengajar dari Universitas Krisnadwipayana Jakarta, Avip Kurniawan, ST., M.Kom. Materi yang disampaikan pada hari ke tiga diantaranya mengetahui dan memahami berbagai tantangan guru di era digital dilanjutkan dengan Mengenal edmodo sebagai media pembelajaran yang tampilan dan fitur seperti media sosial.
Hari terakhir pelatihan, hari ke 4, peserta diajak kerja praktis bagaimana memanfaatkan fitur google untuk pembelajaran. Mulai dari pembuatan akun google, pemanfaatan google form, mengelola kelas virtual dengan memanfaatkan google clasroom. Pada hari terakhir ini kegiatan dipandu oleh Mujianto, S.Pd dengan rekan-rekan yang sudah menguasai materi teknis sebelumnya.
Bagi bapak/ibu yang mengikuti kegiatan tersebut dan membutuhkan laporan kegiatannya, bisa diunduh pada link berikut:
Senin, 08 Maret 2021
Laporan Karya Inovatif Guru BK
Membuat E-Learning berbasis Google Sites dalam Bimbingan Klasikal pada Materi Adversity Quotient
Dalam Buku 4 Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan disebutkan bahwa Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dalam Pengembangan profesi guru merupakan salah satu dari unsur yang diperlukan untuk memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan fungsional guru. Salah satu sub unsur untuk memenuhi angka kredit dalam PKB yaitu Karya Inovatif. Karya inovatif yang dimaksud dalam buku 4 ini diantaranya:
- Menemukan teknologi tepat guna
- Menemukan/menciptakan karya seni
- Membuat/memodifikasi alat pelajaran dan
- Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya.









